Desember 2008, patut diabadikan sebagai salah satu momentum demokrasi kampus. Di mana, pada masa ini terjadi agenda besar panggung politik mahasiswa dari berbagai fakultas yakni FE, FK, dan FIA. Bagi sebagian mahasiswa, momentum suksesi BEM seringkali hanya dimaknai sebagai peralihan dari satu pemimpin kepada pemimpin yang lain dalam pergantian periode. Padahal, disadari atau tidak, BEM merupakan cerminan dari kondisi mahasiswa di lingkungannya. Dalam bahasa ideologis, pemimpin adalah representasi sebagian besar orang yang dipimpinnya.
Menengok situasi kampus biru tercinta, nuansa perubahan begitu terasa. Perubahan dalam partisipasi publik, perubahan dalam partisipan garis ideologis, dan perubahan dalam selera dan ekspektasi konstituen, (dan mungkin masih banyak perubahan yang kurang teridentifikasi penulis). Fakta umum menyebutkan bahwa terjadi kenaikan partisipasi dari pemilih sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat antusiame mahasiswa semakin meningkat. Di samping itu, eksistensi BEM mulai dirasakan. Selain itu juga kedekatan calon pemimpin itu dengan komunitas mahasiswa kebanyakan berpengaruh signifikan dalam mengakumulasi sura mahasiswa.
Dalam memahami konteks posisi eksekutif maupun legislatif kampus, BEM maupun DPM bukanlah tujuan atau cita-cita yang selalu kita impikan. Kesalahan berpikir dalam memahami situasi ini akan menimbulkan rentetan panjang kesalahan penyikapan pasca peristiwa itu terjadi. Adapun bila terjadi kegagalan, kita cenderung meratapi kegagalan tersebut dan menyalahkan siapa saja yang menjadi penyebab kesalahan sehingga berimbas pada lunturnya nilai-nilai ukhuwah yang sudah dibangun dalam waktu sekian lama. Adapun bila terjadi keberhasilan, maka kita akan terbuai dengan kesuksesan di awal, muncul kesombongan dan mengklaim bahwa semua terjadi karena “aku”. Bila ini yang terjadi maka rusaklah semua pengorbanan yang dilakukan sebelum, saat, dan sesudah suksesi itu sendiri.
Mari melihat dari sudut lain, ketika apa yang kita perjuangkan adalah jalan untuk mencapai cita-cita besar kita, menjadi rahmat bagi seluruh alam. Dalam konteks ini berarti kita ingin berarti dan memberi kontribusi positif bagi fakultas kita, menebarkan semangat perubahan, dan mengukir karya sebagai amalan kebanggaan kita kelak. Maka sudah cukup alasan bagi kita untuk mengayunkan langkah bersama mencapai jalan tersebut.
PEMILWA di sejumlah fakultas telah usai di akhir tahun ini, meskipun hiruk-pikuknya (baca: proses peresmian) belum selesai hingga detik ini, ada fajar harapan tumbuh ketika mereka yang terpilih adalah orang-orang yang dipercaya dapat menjalankan amanah dengan segala kemampuan dan tanggung jawab mereka. Mereka yang berteriak dengan lantang “Kami telah kembali, untuk mengabdi”. Maka bersiaplah untuk mengolah lahan pemberdayaan. Mungkin terasa lelah, tapi itulah tabiatnya jalan yang kita pilih. Air mata, peluh, luka justru mungkin akan menjadi penyelamat ketika kita menghadapi neraca keadilan.
GURU TERBAIK adalah PENGALAMAN
“Aku beruntung aku berada di sini, saat kami merasakan himpitan-himpitan lawan, kala dimana kami berada dalam ketegangan-ketegangan dalam tiap pergantian detik. Di lain waktu, kami merasakan kebahagiaan di atas jerih yang berpeluh-peluh, merasakan kenikmatan sujud bersama saudara kami saat mabit. Dan sekali lagi, aku merasa menjadi orang yang paling beruntung.”
Pengalaman diklaim sebagai modal yang paling berharga dalam menjalani kehidupan. Adapun pengetahuan dan skill merupakan bagian awal sebuah kompetensi. Pengalaman mengabungkan dua kompetensi tersebut dalam waktu yang bersamaan. Hasilnya, fantastis…….pengalaman dapat mengubah cara berpikir seseorang menjadi lebih dewasa.
Bicara masalah pengalaman, maka erat kaitannya dengan sejarah. Pengalaman kita adalah bagian dari masa lalu tentang apa yang pernah kita alami. Dari masa lalu itu, kita belajar menempatkan sisi positif dan negatif, menggali kompetensi, menemukan celah dan merancang sebuah bangunan masa depan. Maka sejarah menempati posisi yang sangat penting dalam upaya mendewasakan diri kita. Dalam kaca mata Islam, sejarah terbaik pernah ditorehkan oleh para pahlawannya dengan dua senjata utama yakni Alqur’an dan as-sunnah.
Dalam konteks PEMILWA yang menjadi arena suksesi eksekutif dan legislatif kampus, seharusnya pengalaman menjadi modal awal kekuatan kita. Coba hitung kembali, berapa kali keterlibatan kita, baik secara personal maupun komunal dalam momen ini diberbagai lingkup. Meski pengalaman tidak selalu berwujud dalam kemenangan, pasti ada nilai yang terkandung dibalik setiap peristiwanya.
Betapa telah cukup pengalaman yang kita rasakan. Catatan harian menjelang suksesi yang diramaikan ikhwah adalah catatan harap-harap dan kecemasan. Betapa kita telah merasakan semua, bagaimana nuansa jiwa kita campur aduk. Hari-hari kita disibukkan dengan berbagai persiapan, kadangkala dibumbuhi dengan perselisihan kecil sebagai fitrah keberagaman. Tempat tinggal kita, mungkin dipenuhi dengan pernak-pernik atribut dan segala pelengkapnya. Itulah guru kita, yang berbentuk pengalaman.
ditulis untuk buletin KIRI KAMMI pasca kemenangan KAMMI di 3 pemilwa fakultas UB.
Komentar Terbaru