Air mataku juga membawa kesedihan atas apa yang terjadi pada kami. Seperti biasa, dalam setiap “pesta” demokrasi di kampus mesti ada pihak yang merasa dirugikan. Bahkan di ruangan ini kerumunan orang masih ramai bertahan mengamati detik-detik berikut yang akan terjadi. Aku cuma bisa berharap tidak ada masalah lagi.
Tetapi seharusnya mereka sadar bahwa kami ini adalah para aktivis dakwah, apa mungkin mempunyai niatan untuk berbuat keburukan terhadap ini. Bahkan dalam beberapa kesempatan bertemu dengan para calon presiden dari kelompok mahasiswa lain aku selalu di depan menjadi juru bicara kepada mereka untuk menyampaikan visi kami.
“kami ini tidak membawa apa-apa disini, kami hanya ingin kampus kita ini lebih baik dan lebih Islami. Kami memiliki kader-kader yang InsyaAllah bisa dipercaya, amanah. Kami sangat-sangat siap untuk bekerja sama dengan kalian semua, karena juga kalian adalah orang Islam juga, tolong dimengerti”. Penjelasanku pada suatu kesempatan.
Aku juga bingung, mengapa mereka tetap ‘teguh’ untuk tidak mau bekerja sama dengan kami. Padahal sudah panjang lebar kujelaskan. Sambil menyeka tetesan air mata, kubuka pesan dari handphone yang sedari tadi udah bergetar.
“Dan gmna hsil prolehan suara u qt”. sms dari Dina muncul di layar.
Belum sempat aku membalasnya, tiba-tiba suasana gaduh terjadi.
“Braaaaaakkk !!!”.
Kursi dibanting dan pintu keluar ruangan ditendang dengan keras. Bersamaan itu juga keluar kata-kata makian dan sumpah serapah beberapa pengunjung yang tidak puas dengan hasil pemilihan. Aku Cuma bisa beristighfar sambil menenangkan ikhwah lain yang sempat terpancing.
Sambil menenangkan ikhwah lain yang juga sempat ada yang emosi dengan melempar botol mineral, aku mencari mas Aang yang sedari tadi cukup gelisah.
“Massss !!!. teriakanku memanggil mas Aang yang ngeloyor keluar ruang melalui pintu samping.
Aku sangat mengkhawatirkannya. Dia sendirian keluar, sangat rawan. Dan aku tahu kondisi hatinya sedang gelisah.
“Mass !, tenang dong. Mas mau kemana, lebih baik kita pulang bareng-bareng dengan anak-anak yang lain”. Rajukku pada mas Aang.
“Dik, antum temani saya pulang duluan aja”. Jawabnya
Sambil berjalan dipekatnya malam menemani mas Aang aku menitip pesan ke Ahmad untuk menggantikan kendali ikhwah di ruang penghitungan suara.
“Mas, saya tahu mas Aang tidak siap dengan hasil ini. Saya tahu mas Aang kecewa, tetapi mas ini adalah politik. Semua tidak sebaik yang kita bayangkan mas”.
“Saya juga tahu Dik, semoga malam nanti kita bisa muhasabah atas yang terjadi. Afwan hati saya belum sreg “. Jawabnya
Sms Dina kembali muncul di layar handphoneku. Sudah jam 02.00 dini hari, ini anak memang bikin penasaran. Segera kulipat sajadah dan kurapikan sarungku. Ya Allah, malammu ini aku telah menegakkan dengan muhasabah kepadaMU…..
Perlahan kurebahkan badanku ke ranjang, kemudian kubuka sms dari Dina.
“Dan, eh akhi ?, kok ga dbls sih. Mas Aang menang kan ?”.
“Alhmdulillah menang Din, eh ukhti”. Jawabku
“Semoga berguna bagi dakwah, eh benar dakwah kan Dan?, kmu pasti abis sholat malem ya?. Smg usha kmu n yg laen sukses”?.
Lemparan batu kecil-kecil menimbulkan riak-riak kecil air di danau kampusku. Kulempar pandangan di sekeliling danau, beberapa mahasiswa asyik membaca buku sambil sesekali canda ria pecah diantara mereka.
“Dik, aku masih belum mantap. Aku akan menjadi pemimpin bagi mereka, tidak hanya kita. Aku takut akan mempertanggungjawabkannya.”
”Iya mas, ini hanya masalah komunikasi saja. Kita akan segera memperbaiki komunikasi dengan mereka. Aku janji mas, akan coba meyakinkan lebih lagi kepada mereka”.
Ang, kami menyadari bahwa kami tidaklah memiliki kebesaran seperti kelompokmu. Tetapi kami juga punya hak dalam kampus ini karena kami juga warga kampus ini. Saya tahu maksud dari rencana teman-teman terhadap kampus kita. Tolong yakinkan kami bahwa kamu bisa menjadi pemimpin kami juga dan pemimpin semua. Tolong Ang, dijawab
Kubuka kembali lembar-lembar surat yang diberikan mas Aang dari Romi. Memang, disadari atau tidak, kemenangan, kejayaan kita karena ada yang berkorban untuk kalah. Keridhaan mereka untuk kalah itulah sebenarnya kunci kemenangan kita. Ketika mereka telah ridha, maka kita memang bisa diterima oleh semuanya. Bukankah hakikat kemenangan, kekuasaan yang kita peroleh sebenarnya untuk menjadi qiyadah bagi semua ?. Berikutnya surat dari Nicholas.
Bung Aang, saya tahu siapa bung dan siapa teman-teman bung. Saya belum bisa meyakinkan teman-teman untuk bisa menerima bung. Bukankah agama bung juga menjaga toleransi antar semua ?. pemikiran bung mungkin baik tetapi saya tidak tahu dengan teman-teman bung yang lain. Sejujurnya bung, kami cuma ingin saling menjaga toleransi diantara kita semua, kami juga punya hak disini…lebih dari itu, bung kan juga paham bahwa musuh kita bukan antar kita sendiri kan bung ?
Bisa, bisa kok. Mas Aang bisa kok memenuhinya. Dia sering mengatakan kepadaku perkataan bijak Mr. Bush : “I was not elected as president to serve one party, but to serve one nation”.
Malam ini aku dan mas Aang janjian untuk mabit bareng di kosku. Suara tilawah dari surat Al Muzammil mengalun halus dari mulut mas Aang.
“ Sesungguhnya kami telah mengutus seorang Rasul (Muhammad) kepada kamu, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rasul kepada Fir’aun”.
“Kadang kita terlalu percaya diri, bahwa kita adalah yang terbaik dari yang lain. Padahal disaat itu karena yang lain lebih buruk saja dari kita. Apalagi kalau kita membawa label misi Islam”.
“Seorang Muhammad bukanlah manusia biasa. Sebelum nubuwwah, dia adalah manusia pilihan di kabilahnya. Kepercayaan adalah jaminan bagi semuanya bahkan lawannya”.
“Benar mas, saya juga menyadari, ini bukan momen politik saja sebenarnya, rebut-merebut, aku – kamu atau kita dan bukan dari kita. Tetapi kita dan semua”.
“Antum coba baca surat ini “.
“Kami bisa memberikan orang-orang terbaik dari kami, yang lebih bervisi Islam. Afwan sebelumnya akhi, bukan kami tidak percaya pada antum, tetapi dua tahun ini kami semua merasa tidak ada perubahan di kampus kita. Kami cuma ingin saling menasehati diantara kita, mungkin antum semua mengatakan sudah maksimal atau sudah yang terbaik. Tetapi masukan dari kami, kampus kita belum berubah…tolong dipertimbangkan.
“ Wah, kalau ini mas saya ngga bisa menjawab. Kita memang yang dianggap mengambil saham banyak dalam dakwah di kampus, mereka melihat itu. Cuma memang kita perlu introspeksi juga”.
“ Apakah kemudian ini kita menyikapi dengan kata-kata itu lagi Dan, : ya kita fastabihul khairat aja. Apa kita ngga bisa beriring bersama, kita kan bervisi sama ”.
“Ini mas, ada sms dari Dina. Dia kayaknya banyak men-support antum selama ini”. Aku memotong untuk mengalihkan pembicaraan merski aku juga menyimpan tanda tanya itu.
“Dina memang begitu, mana coba lihat”. Dengan agak senyum mas Aang meraih handphoneku.
“nitip u mas Aang : kbradaan tman2 mas Aang slama ni tlah mneduhkan kampus qta, mas hrs menerusknnya ya, Dina always diblakang kalian”.
Malam semakin larut, mata sudah ngga bisa diajak kompromi lagi. Tapi saya yakin Allah menyaksikan apa yang kami bicarakan.
“Mana selimutmu Dan, jangan mentang-mentang ikhwah terus takluk dalam kedinginan malam, tanpa selimut lagi”.
“Wah, nggak ya. Lengkap nih”.
Bertemankan dingin malam, kami tertidur pulas. Hingga suatu ketika….
“Ayolah mas, kami semua akan berada di belakang mas”.
“Baiklah, InsyaAllah kita akan bergerak sekarang…”.
Gelagapan kami terbangun bersamaan.
“Mas, mas. Gimana ?, bener kan. Sambil aku menggoyang-goyang bahunya
Mas Aang tetap diam mematung.
Komentar Terbaru