Archive for the Category » Student Movement «

March 02nd, 2010 | Author: AndrikPrastiyono.Net

Malang – Mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kota Malang. Dalam aksinya mahasiswa menggelar aksi tutup mata merupakan sindiran terhadap wakil rakyat yang selama ini bertingkah seperti tak terlihat oleh rakyat.

Aksi ini meminta wakil rakyat anggota Pansus Century menyebut nama dalam rapat paripurna nanti. more…

Category: Student Movement  | Tags: ,  | 5 Comments
March 02nd, 2010 | Author: AndrikPrastiyono.Net

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Malang menuntut Boediono dan Sri Mulyani dinonaktifkan atau mengundurkan diri karena terindikasi bertanggung jawab atas skandal Bank Century.

Tuntutan itu disampaikan melalui unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kota Malang, Selasa (2/3). “Kami juga mendesak Sidang Paripurna berani menyebut nama-nama orang yang bertanggung jawab atas skandal Bank Century,” kata Andrik Prastiyono, Humas Aksi.

Menurutnya, Partai Demokrat dan Partai Kebangkitan Bangsa yang masih malu-malu untuk mengakui ada kesalahan dalam proses Baillout Bank Century senilai Rp 6,7 triliun. more…

Category: Student Movement  | Tags: ,  | 6 Comments
September 27th, 2009 | Author: andrik

humas gerakanSesaat setelah dihubungi akh Roby –Ketua KAMMI Daerah Malang 2009/2011- via sms bahwa saya mendapatkan amanah baru, ketua Departemen Humas, respon spontan dalam hati saya adalah ,”it’s a difficult thing..”, suatu hal yang tidak mudah. Meski kemudian, akh Roby memaparkan banyak alasan “kenapa harus memilih saya” yang pada akhirnya bisa juga meluluhkan pertahanan saya, tetap saja ini artinya saya harus sedikit merubah arah haluan dalam peta hidup saya. Dan, ini tidak mudah.

Sebab, menjadi humas, adalah kata lain dari bagaimana mencitrakan sebuah organisasi. Aduuh, ini sama saja dengan menjawab pertanyaan, “Bagaimana sih caranya menjadi orang yang baik?”. Semua pasti sudah tau jawabnya. Tahapan demi tahapan. Point demi point. Setrip demi setrip pasti akan lancar benar diucapkan. Dalam contoh kecil, maka menjadi seorang humas haruslah menjadi sosok yang bagaimana jika seseorang melihat, berbicara dan bergaul dengannya senantiasa mendapatkan kebaikan. Jika kemudian di flashback kebelakang napak tilas karir saya di kajian strategis yang lebih dominan sosok oposan, kritikus, hantam sana hantam sini, maka menjadi “orang baik” dihumas adalah bukan sesuatu hidangan yang gurih untuk dikunyah dalam waktu dekat ini.

Dilain sisi, saya bersyukur beramanah di humas. Karena, dengan menjadi humas, saya bisa bermain – main dengan kuasa wacana. Ya, kuasa wacana. Bukan berarti saya gila kepopularitasan, oh sama sekali tidak. Naudzubillah. Dalam lintasan sejarah, kuasa wacana selalu memegang kuasa penting dalam menentukan arah perjalanan sebuah peradaban. Sebutlah misal, Napoleon ternyata lebih takut kepada pena seorang wartawan daripada pasukan sebesar apapun. Napoleon tak bisa lagi mendengungkan semboyan pendahulunya, Louis XIV, yang selalu berkata, “L’tat ces moi…!”, Negara adalah saya. Tatkala ia mengalami antiklimaks dalam karirnya saat penyerangann ke Rusia.

Lalu, ada fir’aun. Yang mampu menciptakan kuasa wacana bahkan legitimasi untuk membunuh sang rasul, Musa. Tuduhan, bahwa Musa adalah seorang pengacau dan pembuat kerusakan ia sematkan dengan permainan bahasa yang luar biasa. Dia membangun sebuah pembenaran, bukan kebenaran. Dia menata dengan cantik teori – teorinya, parameter – parameternya, serta data – data pendukungnya. Sehingga, apapun kebijakan politis yang dia ambil, maka rakyatnya akan selalu berpihak kepadanya. Layaknya ajaran dalam kitab “How to Lie with statistic”, fir’aun dengan sukses membangun pijakan – pijakan atas klaimnya. Dan nampaknya, presiden kita SBY, meskipun bukan fir’aun, juga sangat ahli dan lihai dalam permainan ini.

Dalam konteks kekinian, kitapun baru saja disuguhi sebuah tontonan kolosal awal tahun dari kelihaian humas Israel. Bahwa penjajahan bahkan genosida zaman modern sebenarnya terpampang nyata di depan mata, saat Israel menginvasi Palestina bulan lalu. Namun faktanya, tidak semua orang mengamini bahwa itu adalah sebuah penjajahan bahkan ada pula yang membela. Salah satu sebabnya adalah kelihaian humas Israel dalam melayani pers asing. Konon, begitu seorang jurnalis asing tiba dan menerima kartu pers, alamat e-mail-nya akan segera dibanjiri berbagai siaran pers. Setiap hari, telepon selulernya juga nyaris tak akan berhenti berdering, untuk menerima kontak dari petugas humas Israel, yang sudah siap dengan berbagai saran untuk meliput isu-isu tertentu. Mereka juga menyediakan makanan dan transportasi gratis, menyediakan narasumber untuk diwawancarai, hotel untuk konferensi pers. Semua kebutuhan pers telah disediakan, diarahkan, dengan tujuan agar pemberitaan ’berpihak’ atau minimal berempati kepada agreasi yang dilakukan Israel.

Bagi media kritis yang memberitakan pemberitaan alternatif, Israel tak segan-segan menggunakan ’kuasanya’ untuk memberangus media yang bersangkutan. Ini dilakukan di India (atas desakan Israel) yang melarang Al-Jazeera mengudara. Pelarangan ini agar tayangan kesadisan dan kebrutalan Israel tak disaksikan oleh penduduk dunia. Bagi antum yang ingin melihat sedikit kelihaian bahasa diplomasi humas Israel bisa melihatnya dalam wawancara detik.com beberapa waktu yang lalu.

Dan, ketika saya berhenti sejenak dalam perenungan. Akhirnya saya menemukan bahwa dalam kacamata Tan Malaka pada Madilog-nya, ” Catatan yang sempurna dan jitu bisa menaklukan musuh, kawan, ataupun guru. Catatan yang sempurna dan jitu bisa menaklukan musuh secepat kilat dan bisa merebut kesepakatan dan kepercayaan yang bersimpati sepenuh-penuhnya. Baik dalam polemik, perang pena, baik dalam propaganda. Maka catatan itu adalah barang yang tidak bisa ketinggalan, seperti semen dan batu tembok untuk membangun gedung”. Akhirnya memantik sebuah kesadaran, bahwa kami adalah seorang muslim. Yang telah digariskan Allah sebagai ummat terbaik. Sangat faham, bahwa memenangkan wacana adalah salah satu bagian terpenting untuk memenangkan jihad – jihad kami. Dan, menjadi humas semakin mendekatkan kami kepada surga. Insya Allah.

September 10th, 2009 | Author: andrik

berubahBerkali-kali kta mendengar kata perubahan. Selalu saja yang terbayang adalah perbaikan. Saat pelayan baru negeri ini terpilih, maka perubahan menjadi satu sisi mata uang yang lain bagi pelayan. Harapan demi harapan beriringan dengan kecemasan. Optimis dan pesimis menjadi nampak begitu kabur sehingga dalam kondisi yang kritis sangat dimungkinkan terjadi ledakan-ledakan emosi.

Pun demikian ketika dalam dinamika sebuah organisasi gerakan mahasiswa, perubahan atau mungkin lebih tepatnya penekanan terjadi dari gerakan jalanan nan reaksioner menuju gerakan berbasis intelektual profetik lalu sekarang mengusung muslim negarawan.

Independensi perubahan.

Sebagai sebuah sunnatullah, perubahan sesungguhnya mejadi sesuatu yang sangat wajar dan netral. Artinya, setiap perubahan selalu mengundang dua konsekuensi, yaitu perbaikan atau kerusakan, kemajuan atau kemunduran. Konsekuensi ini merupakan biaya yang harus dibayar atas sebuah keputusan. Kita telah memutuskan akan berjalan diatas Gerakan Intelektual Profetik.
Kita pun juga telah merumuskan muslim negarawan,maka dimana posisi kita? Disinilah kita dihadapkan pada pilihan, kita akan mewarnai perubahan ini dengan apa? Kebingungan, keyakinan atau dengan ketidakyakinan.

Kader dipersimpangan jalan
Dia berada di KAMMI, bahkan berputar bersamanya. Tapi dia selalu menyenangi untuk menunggu. Ibarat pendatang yang tak tahu arah, sehingga lama diam mematung. Jasadnya mungkin bergerak, tapi pikirannya tidak kunjung bergerak untuk mencari tau apa itu Gerakan Intelektual Profetik. Baginya yang penting saya sering ikut kegiatan KAMMI. Kader seperti ini tentu tidak dapat dibiarkan bingung berkepanjangan.

Dia harapan Gerakan
Semangatnya tinggi. Kecemasan dan kecintaannya membuatnya selalu berusaha mencari sebuah pemahaman terhadap kondisi KAMMI. Seperti Ibrahim yang mencari Tuhanya atau Seorang Muhammad, SAW yang berusaha menemukan kehidupan yang lurus. Dia tidak pernah nyaman dengan stagnasi atau kejumudan. Maka pena nya bergerak merumuskan perbaikan, mulutnya terus berdialeketika, sorot matanya terus menyiratkan keyakinan dan seluruh anggota tubuhnya terus mengasah potensinya.

Apakah dia kader?
Dia berada diKAMMI. Diapun memiliki kecemasan. Tapi semuanya lahir dari rahim ketidakyakinan, apatis dan fatalis. Maka alangkah wajar jika sikapnya sama dengan orang yang alergi dengan KAMMI. Dia kehilangan cerita heroik KAMMI tapi tidak pernah bertanya mengapa. Dia disibukkan dengan pembicaraan orang lain dan tidak memandang perubahan paradigma Gerakan Intelektual Profetik secara objektif, persis cerita orang buta yang memegang gajah.
Jadi, kontribusinya terletak pada cemoohan dan bukan pada solusi.

Solusi Sinergi
Rahim KAMMI telah melahirkan rumusan Gerakan Intelektual Profetik. Paradigma ini harus diusung dengan sinergi antara aksi, kaderisasi dan struktur organisasi. Apa jadinya konsep yang bagus tanpa kaderisasi yang menunjang kearah sana. Jika kaderisasi tidak menunjang, mungkinkah terwujud aksi yang diharapkan. Jika struktur organisasi tidak kunjung ajeg, apakah bisa melahirkan perbaikan. Wallahua’lam, kita puya peluang untuk mewarnai jawabannya.

June 11th, 2009 | Author: andrik

Perkenalanku dengan beliau memang tidaklah terlalu lama. Aku mengenalnya tidak lebih dari setengah tahun ini. Perawakannya tidaklah terlalu tinggi, standar. Seorang jawa yang cukup kental lengkap dengan logat jawa halusnya. Aku memang juga seorang putra jawa, Ayahku adalah Solonese, istilah plesetan yang sering aku sindirkan kepada Ayahku karena ke-Solo-annya. Sayang, Allah telah memanggilnya mendahuluiku sekitar 2 tahun lalu. Meski keturunan jawa , tetapi aku sangat tidak faham sekali akan kehalusan tutur bahasa orang jawa. Mas Aang, begitu aku menyebutnya sangat fasih sekali bertutur krama alus-nya ketika bertemu dengan orang yang lebih tua, bahkan untuk meledekku sekalipun. Tetapi lebih dari itu aku sangat mengagumi ketenangan pribadinya. Kehalusan gaya dirinya mengalahkan kehalusan tutur bahasanya.

“Aku memang ikhwah Dik, tetapi justru karena ke-ikhwah-anku aku harus memaksimalkan potensi penguasaan bahasa ini untuk mencoba sarana memahami bahasa obyek dakwah kita, saya tidak menyalahkan ikhwah yang bahasanya lebih gaul, ngga papa kok yang penting berguna. Jawabnya kalem ketika aku menanyakan kenapa dia ‘laen’ daripada yang laen dibanding trend ikhwah yang mulai gaul.

Hari ini, tepat jarum jam menunjukkan pukul 20.31 WIB, di sudut ruang B2 tempat penghitungan suara pemilihan Presiden mahasiswa aku meneteskan air mata. Bukan karena apa, inilah untuk pertama kalinya kami bisa mengantarkan sosok kader dakwah menjadi pucuk pimpinan sebuah pemerintahan mahasiswa. Yang akan mengayomi seluruh mahasiswa di kampusku, lebih dari 5.000 mahasiswa di kampusku akan dipimpin oleh seorang pemimpin yang Islami. Ya Rasulullah, seandainya engkau masih hidup tentu aku tak akan ragu lagi membanggakannya dihadapanmu. Meski kecil tetapi ini adalah perjuangan yang luar biasa. Perjuangan para generasi penebus kejayaan Islam yang sempat memudar.

Air mataku juga membawa kesedihan atas apa yang terjadi pada kami. Seperti biasa, dalam setiap “pesta” demokrasi di kampus mesti ada pihak yang merasa dirugikan. Bahkan di ruangan ini kerumunan orang masih ramai bertahan mengamati detik-detik berikut yang akan terjadi. Aku cuma bisa berharap tidak ada masalah lagi.
Tetapi seharusnya mereka sadar bahwa kami ini adalah para aktivis dakwah, apa mungkin mempunyai niatan untuk berbuat keburukan terhadap ini. Bahkan dalam beberapa kesempatan bertemu dengan para calon presiden dari kelompok mahasiswa lain aku selalu di depan menjadi juru bicara kepada mereka untuk menyampaikan visi kami.
“kami ini tidak membawa apa-apa disini, kami hanya ingin kampus kita ini lebih baik dan lebih Islami. Kami memiliki kader-kader yang InsyaAllah bisa dipercaya, amanah. Kami sangat-sangat siap untuk bekerja sama dengan kalian semua, karena juga kalian adalah orang Islam juga, tolong dimengerti”. Penjelasanku pada suatu kesempatan.

Aku juga bingung, mengapa mereka tetap ‘teguh’ untuk tidak mau bekerja sama dengan kami. Padahal sudah panjang lebar kujelaskan. Sambil menyeka tetesan air mata, kubuka pesan dari handphone yang sedari tadi udah bergetar.

“Dan gmna hsil prolehan suara u qt”. sms dari Dina muncul di layar.

Belum sempat aku membalasnya, tiba-tiba suasana gaduh terjadi.

“Braaaaaakkk !!!”.
Kursi dibanting dan pintu keluar ruangan ditendang dengan keras. Bersamaan itu juga keluar kata-kata makian dan sumpah serapah beberapa pengunjung yang tidak puas dengan hasil pemilihan. Aku Cuma bisa beristighfar sambil menenangkan ikhwah lain yang sempat terpancing.

Sambil menenangkan ikhwah lain yang juga sempat ada yang emosi dengan melempar botol mineral, aku mencari mas Aang yang sedari tadi cukup gelisah.

“Massss !!!. teriakanku memanggil mas Aang yang ngeloyor keluar ruang melalui pintu samping.

Aku sangat mengkhawatirkannya. Dia sendirian keluar, sangat rawan. Dan aku tahu kondisi hatinya sedang gelisah.

“Mass !, tenang dong. Mas mau kemana, lebih baik kita pulang bareng-bareng dengan anak-anak yang lain”. Rajukku pada mas Aang.

“Dik, antum temani saya pulang duluan aja”. Jawabnya

Sambil berjalan dipekatnya malam menemani mas Aang aku menitip pesan ke Ahmad untuk menggantikan kendali ikhwah di ruang penghitungan suara.

“Mas, saya tahu mas Aang tidak siap dengan hasil ini. Saya tahu mas Aang kecewa, tetapi mas ini adalah politik. Semua tidak sebaik yang kita bayangkan mas”.

“Saya juga tahu Dik, semoga malam nanti kita bisa muhasabah atas yang terjadi. Afwan hati saya belum sreg “. Jawabnya

Sms Dina kembali muncul di layar handphoneku. Sudah jam 02.00 dini hari, ini anak memang bikin penasaran. Segera kulipat sajadah dan kurapikan sarungku. Ya Allah, malammu ini aku telah menegakkan dengan muhasabah kepadaMU…..

Perlahan kurebahkan badanku ke ranjang, kemudian kubuka sms dari Dina.

“Dan, eh akhi ?, kok ga dbls sih. Mas Aang menang kan ?”.

“Alhmdulillah menang Din, eh ukhti”. Jawabku

“Semoga berguna bagi dakwah, eh benar dakwah kan Dan?, kmu pasti abis sholat malem ya?. Smg usha kmu n yg laen sukses”?.

Lemparan batu kecil-kecil menimbulkan riak-riak kecil air di danau kampusku. Kulempar pandangan di sekeliling danau, beberapa mahasiswa asyik membaca buku sambil sesekali canda ria pecah diantara mereka.

“Dik, aku masih belum mantap. Aku akan menjadi pemimpin bagi mereka, tidak hanya kita. Aku takut akan mempertanggungjawabkannya.”

”Iya mas, ini hanya masalah komunikasi saja. Kita akan segera memperbaiki komunikasi dengan mereka. Aku janji mas, akan coba meyakinkan lebih lagi kepada mereka”.

Ang, kami menyadari bahwa kami tidaklah memiliki kebesaran seperti kelompokmu. Tetapi kami juga punya hak dalam kampus ini karena kami juga warga kampus ini. Saya tahu maksud dari rencana teman-teman terhadap kampus kita. Tolong yakinkan kami bahwa kamu bisa menjadi pemimpin kami juga dan pemimpin semua. Tolong Ang, dijawab

Kubuka kembali lembar-lembar surat yang diberikan mas Aang dari Romi. Memang, disadari atau tidak, kemenangan, kejayaan kita karena ada yang berkorban untuk kalah. Keridhaan mereka untuk kalah itulah sebenarnya kunci kemenangan kita. Ketika mereka telah ridha, maka kita memang bisa diterima oleh semuanya. Bukankah hakikat kemenangan, kekuasaan yang kita peroleh sebenarnya untuk menjadi qiyadah bagi semua ?. Berikutnya surat dari Nicholas.

Bung Aang, saya tahu siapa bung dan siapa teman-teman bung. Saya belum bisa meyakinkan teman-teman untuk bisa menerima bung. Bukankah agama bung juga menjaga toleransi antar semua ?. pemikiran bung mungkin baik tetapi saya tidak tahu dengan teman-teman bung yang lain. Sejujurnya bung, kami cuma ingin saling menjaga toleransi diantara kita semua, kami juga punya hak disini…lebih dari itu, bung kan juga paham bahwa musuh kita bukan antar kita sendiri kan bung ?

Bisa, bisa kok. Mas Aang bisa kok memenuhinya. Dia sering mengatakan kepadaku perkataan bijak Mr. Bush : “I was not elected as president to serve one party, but to serve one nation”.

Malam ini aku dan mas Aang janjian untuk mabit bareng di kosku. Suara tilawah dari surat Al Muzammil mengalun halus dari mulut mas Aang.

“ Sesungguhnya kami telah mengutus seorang Rasul (Muhammad) kepada kamu, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rasul kepada Fir’aun”.

“Kadang kita terlalu percaya diri, bahwa kita adalah yang terbaik dari yang lain. Padahal disaat itu karena yang lain lebih buruk saja dari kita. Apalagi kalau kita membawa label misi Islam”.

“Seorang Muhammad bukanlah manusia biasa. Sebelum nubuwwah, dia adalah manusia pilihan di kabilahnya. Kepercayaan adalah jaminan bagi semuanya bahkan lawannya”.

“Benar mas, saya juga menyadari, ini bukan momen politik saja sebenarnya, rebut-merebut, aku – kamu atau kita dan bukan dari kita. Tetapi kita dan semua”.

“Antum coba baca surat ini “.

“Kami bisa memberikan orang-orang terbaik dari kami, yang lebih bervisi Islam. Afwan sebelumnya akhi, bukan kami tidak percaya pada antum, tetapi dua tahun ini kami semua merasa tidak ada perubahan di kampus kita. Kami cuma ingin saling menasehati diantara kita, mungkin antum semua mengatakan sudah maksimal atau sudah yang terbaik. Tetapi masukan dari kami, kampus kita belum berubah…tolong dipertimbangkan.

“ Wah, kalau ini mas saya ngga bisa menjawab. Kita memang yang dianggap mengambil saham banyak dalam dakwah di kampus, mereka melihat itu. Cuma memang kita perlu introspeksi juga”.
“ Apakah kemudian ini kita menyikapi dengan kata-kata itu lagi Dan, : ya kita fastabihul khairat aja. Apa kita ngga bisa beriring bersama, kita kan bervisi sama ”.

“Ini mas, ada sms dari Dina. Dia kayaknya banyak men-support antum selama ini”. Aku memotong untuk mengalihkan pembicaraan merski aku juga menyimpan tanda tanya itu.

“Dina memang begitu, mana coba lihat”. Dengan agak senyum mas Aang meraih handphoneku.

“nitip u mas Aang : kbradaan tman2 mas Aang slama ni tlah mneduhkan kampus qta, mas hrs menerusknnya ya, Dina always diblakang kalian”.

Malam semakin larut, mata sudah ngga bisa diajak kompromi lagi. Tapi saya yakin Allah menyaksikan apa yang kami bicarakan.

“Mana selimutmu Dan, jangan mentang-mentang ikhwah terus takluk dalam kedinginan malam, tanpa selimut lagi”.

“Wah, nggak ya. Lengkap nih”.

Bertemankan dingin malam, kami tertidur pulas. Hingga suatu ketika….

“Ayolah mas, kami semua akan berada di belakang mas”.

“Baiklah, InsyaAllah kita akan bergerak sekarang…”.

Gelagapan kami terbangun bersamaan.

“Mas, mas. Gimana ?, bener kan. Sambil aku menggoyang-goyang bahunya

Mas Aang tetap diam mematung.

June 11th, 2009 | Author: andrik
Suatu ketika dakwah ini telah menapak tangga kematangannya. Episode baru rangkaian kegemilangan perjuangan ikhwah menjadi sebuah realitas yang nyata.. dari sudut-sudut rumah, lorong-lorong tempat sandar para ikhwah renyah membicarakan capaian-capaian dakwah kita suatu ketika kami sempat singgah di sebuah daerah di dataran bumi sumatera, dan subhanallah kehidupan dakwah para ikhwah begitu maraknya layaknya kehidupan Islam kaum sarung di daerah tradisional jawa timuran. Islam begitu (malahan ada ikhwah yang ‘over pede’ mengatakan : “kita telah menang akhi !”, ada yang bahasa tawadhu : “ini masih usaha yang belum seberapa”. Berbagai macam ekspresi dilontarkan sebagai wujud luapan perasaan.
Luapan perasaan adalah fitrah yang normal bagi manusia. Rasa bahagia memicu binar-binar wajah, sedih mengguyur atas ketakutan akan kelalaian nantinya…Kejayaan dakwah ini adalah tugas suci dari mihrab Allah untuk kita, tidak lebih. Kejayaaan atau keterpurukan silih berganti sebagai sunnatullah.
Seiring waktu berjalan, kita tidak lagi dihadapkan pada tantangan pertarungan tetapi dengan tantangan kemudahan-kemudahan yang kita peroleh. Ketika kegiatan dakwah semarak dan mendapatkan eksistensinya, seolah dakwah dan para da’inya ini adalah tokoh baru dan wajib dihormati manusia, selebritis baru mungkin ?. Perebutan kekuasaan menjadi kue empuk tiap hari, yakin “botolpun akan dipilih mahasiswa!” padahal peringatan Allah telah jelas di surat al imron 14. Semoga kita tidak mundur..
June 03rd, 2009 | Author: andrik
Di sebuah tempat yang ramai sesak manusia ber’uang’. Dimana banyak sekali barang hi-tech yang dipajang , dengan begitu rapi berjajar disepanjang mata memandang. Seakan berlomba memamerkan kemutakhiran kecanggihan. Semua Stan berlomba menawarkan. Yah, itulah suasana dalam beberapa pameran laptop dan komputer di Plaza Dieng, Malang Olympic Garden, Malang Town Square, Matahari, Darmo Trade Center, dll. Sebuah perjalanan yang ketempat saya “benci” namun mau bagaimana lagi? Bukan karena gengsi, namun karna semata – mata saya adalah pejuang dibidang ini. Sebuah keharusan. . Karena saya adalah mahasiswa Ilmu Komputer, yang mengaharuskan diri ini untuk selalu update dunia IT, untuk menjaga stabilitas core competence diri.
Hari itu

Pameran teknologi informasi terbesar tahun ini, begitulah iklannya. Sebuah even yang menyedot ribuan manusia . Bertepatan dengan menumpuknya amanah yang harus dikerjakan, paman yang menjadi “pahlawan tanpa tanda jasa”, baik buat saya maupun bagi bangsa ini, meminta tolong untuk dibelikan sebuah notebook guna memperlancar jalan juangnya.

Tempat itu..
Sungguh, saya tak pernah masuk ketempat ini sebelumnya. Hanya karena amanah dari salah seorang yang turut membesarkan saya, dan membaca spanduk disekitar jembatan Sukarno Hatta. Akhirnya saya beranikan memasukinya, ditemani oleh seorang ikhwan adek kelas. Astagfirullah..

Pandangan….

Rasanya mata ini tiada mampu untuk menjaga tetap terjaga dalam nuansa siaga. Begitu langkah kami memasuki ruangan utama pameran, tiada kata yang lebih pantas terucap oleh bibir hati selain istighfar dan taubat berlipat-lipat. Melintas dalam padatnya manusia di pintu masuk pameran, astagfirullah… Memalingkan pandangan merupakan jalan yang utama. Sebuah perjuangan diri.

Sales Promotion Girls…

(…;)

Sebuah dunia….

Jauh dibagian barat kota Malang. Di sebuah kampus biru nan rindang. Dunia lain yang lain dari yang lain. Sebuah kawah candradimuka untuk menempa diri. Sekedar usaha kecil untuk membangunkan raksasa peradaban ilahi. Sebuah dunia yang tidak selalu bisa ditemui di dunia yang ada. Yang konon lebih Islami dari Universitas Islam dikota yang sama.

Muslimah…

Dengan segala pernik kehidupan. Dengan segala kewajibannya untuk memberi perlindungan kepada diri sendiri dan orang lain. Demi mewujudkan sebuah kemuliaan Islam. Meski (mungkin) merasa direpotkan. Hmmm… Sungguh luar biasa muslimah kampus ini. Begitu memberikan gambaran nyata realitas sya’ir Emha Ainun Najib dalam Lautan Jilbab.

Akhawat…

Lebih dari sekedar yang lain. Ya. Karena mereka memang lebih dari sekedar.

Sakinah..

Dan rasa tenteram itu muncul di hati kami. Memberikan kesejukan di mata dan hati kami. Sehijau pucuk dedaunan di musim penghujan. Meski mata kami pun harus tetap tertunduk, kami ikhlaskan demi sebuah kemuliaan dan penghormatan. Mengemban sebuah misi ilahi rabbi… (Karena sayapun tak rela, istri saya (kelak) menjadi pemandangan obralan).

* sepulan perjalanan dari rumah ust. Jalal di Pucak Dieng.