Anasir manusia terdiri dari ruh dan jasad.
Ruh merupakan elemen yang memiliki karakter ketuhanan yang senantiasa mengajak kepada ketinggian.
Sedangkan jasad manusia yang sejatinya terbuat dari tanah selalu mengajak kepada kerendahan sebagaimana sifatnya sebagai tanah.
Pertarungan dan tarik menarik pengaruh antara dua elemen dasar manusia ini menjadikannya selalu berada dalam pilihan.
Antara melakukan sesuatu yang tercela dan sesuatu yang terpuji. Hal dan perbutan yang tidak terpuji pada hakikatnya adalah kesalahan. Dan ini wajar karena kemanusiaan itu sendiri. Berbeda dengan malaikat yang senantiasa dalam jalan yang lurus untuk menuruti perintah Allah.
Ialah Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash. Dalam peristiwa Padang Karbala ia adalah eksekutor pembunuhan Husain bin Ali. Ia memimpin 4.000 prajurit. Oleh ‘Ubaidullah bin Ziyad bin Abi Sufyan ia diutus untuk menjadi Gubernur di Ar Rai serta memadamkan pemberontakan di Dailam. Ketika dalam perjalanan ke Ar Rai, ia ditugaskan untuk menghadapi Husain bin Ali yang berangkat ke Kufah. Ketika ia ragu untuk melaksanakan tugas itu, ‘Ubaidullah mengancam Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash akan memecatnya dari jabatannya sebagai gubernur di Ar Rai. Seketika itu juga ia berangkat menghadang Husain.
Ketika Umar berhasil membujuk Husain untuk kembali ke Madinah atau ke tempat lain atau menghadap Yazid bin Mu’awiyah di Syam, ‘Ubaidullah menyetujui hal itu hingga Syamir bin Zil Jausyan merendahkan dan menganggap keputusan ‘Ubaidullah itu sebagai orang lemah di bawah Husain yang kuat.
Lantas, ‘Ubaidullah bin Ziyad mengirim surat kepada Umar bin Sa’ad yang sangat keras dan tegas. Isinya memerintahkan agar Husain dan kawankawannya dikirimkan kepadanya. Jika Husain enggan, ia harus dibunuh oleh Umar. Dan jika ia telah membunuhnya, maka dada dan punggungnya harus diinjakinjak dengan kuda. Jika Umar menolak melaksanakan perintah ini, maka ia akan dipecat dari seluruh jabatannya dan kepemimpinan akan diserahkan kepada Syamir bin Zil Jausyan.
Husain tidak mau menyerah, sehingga satusatunya jalan adalah bertempur. Pertempuran tidak seimbang antara rombongan Husain dan keluarganya melawan pasukan berperalatan lengkap dengan jumlah yang sangat banyak di Padang Karbala. Semua riwayat menyebutkan bahwa anak buah Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash tidak tega membunuh Husain. Walaupun kesempatan membunuh itu datang, mereka lebih suka jika Husain dibunuh oleh orang lain saja. Melihat hal ini, Syamir berang dan memerintahkan para prajurit itu membunuh Husain. Husain diserang dari berbagai penjuru. Zur’ah bin Syuraik memukulnya di tengkuk sehingga Husain terjatuh pingsan. Kemudian datang lelaki edan, Sinan bin Anas, menikam Husain dengan tombak dan memotong kepalanya. Husain tewas dalam usia 55 tahun.
Satu hal yang juga lebih gila lagi adalah bahwa Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash. Ia menyuruh kawankawannya untuk menginjakinjak mayat Husain dengan kuda mereka untuk memenuhi perintah Ibnu Ziyad. Maka remuklah dada dan punggung Husain yang tanpa kepala itu.
Atau, yang lain, misalnya Abdullah bin Zubair, ada beberapa yang perlu kita ketahui dalam rangka pembelajaran. Abdullah bin Zubair bukanlah orang yang mempunyai hubungan yang baik dengan orang lain, bahkan keluarganya sendiri. Saudaranya yang bernama Amru berdiri di barisan musuhmusuhnya, bahkan menjadi panglima pasukan Bani Umayah yang bertugas menyerang Abdullah. Saudaranya yang bernama Mush’ab pun tak luput dari tipu daya Abdullah meskipun ia adalah seorang pahlawan yang gagah berani. Bahkan putraputranya meninggalkannya dan menggabungkan diri kepada pasukan Al Hajjaj.
Abdullah bin Zubair adalah seseorang yang kikir dan bakhil. Bahkan ia masih sangat kikir meskipun ia sedang membangun sebuah kerajaan. Padahal yang ia perlukan adalah kedermawanan untuk menarik hati para pengikutnya.
Abdullah bin Zubair adalah seorang yang egois. Diriwayatkan bahwa ketika ia meruntuhkan ka’bah untuk dibangun kembali, ia mengambil Hajar Aswad dan diletakkan di rumahnya sendiri. Ia kemudian menyuruh membuat lubang pada bagian ka’bah tempat Hajar Aswad tersebut sesuai ukurannya. Dengan ‘cerdasnya’, ia menyuruh putranya yang bernama ‘Ubad untuk memasang Hajar Aswad ketika rakyat sedang shalat zhuhur bersama Abdullah bin Zubair. Ia sengaja memperlama shalatnya agar ‘Ubad leluasa memasang Hajar Aswad di tempatnya. Tentu saja hal ini memancing kemarahan rakyat.
Abdullah bin Zubair telah membangun mahligai kekuasaannya di atas tumpukan bangkai Ahlul Bait. Ketika ia telah berjaya, ia menindas mereka dan diperlakukan dengan sangat kejam. Kekejaman ini telah meningkat ke taraf yang menguncangkan keimanannya sendiri. Ia memperlihatkan permusuhannya dengan Ahlul Bait dengan meninggalkan membaca shalawat atas nabi dalam pidatonya. Ketika ia ditanya tentang hal itu, ia menjawab bahwa ada orangorang jahat yang amat menginginkan nama nabi disebutsebut. Mereka mengangkat kepala bila mendengar nama nabi dibaca orang. Ia juga menyiksa Muhammad bin Al Hanafiah, Abdullah bin Abbas dan dua puluh empat lainnya dari Bani Hasyim agar mereka mau membai’atnya. Namun mereka tidak mau membai’atnya sehingga dipenjara kemudian dibuang. Ibnu Abbas dibuang ke Tha’if hingga meninggal di sana. Muhammad bin Al Hanafiah dibuang ke Bukit Radhwa hingga meninggal di sana.
Abdullah bin Zubair pernah berusaha menyerah kepada Al Hajjaj. Namun ibundanya, Asma’ binti Abu Bakar Ash Shidiq, melarang hal itu sehingga ia urung menyerah. Suatu hal yang menunjukkan bahwa Abdullah bin Zubair bukanlah pejuang sejati.
Ketika akhirnya Abdullah bin Zubair kalah dalam peperangan melawan Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi, kepalanya dikirim ke Khalifah Abdul Malik di Syam dan tubuhnya disalib. Ketika Abdullah bin Umar bin Khathab melihat mayat Abdullah bin Zubair tersalib, ia berkata, “Semoga Allah merahmati engkau, wahai Abu Khabib! Andaikata tidak ada tiga macam sifat pada dirimu, niscaya aku akan berkata, ‘Engkau masih dalam keadaanmu seperti sediakala! Engkau telah melanggar kehormatan Baitul Haram, engkau tergesagesa menimbulkan kekacauan, dan engkau sangat kikir!
Meskipun demikian ia tetap salah seorang putra shahabat terbaik, Abdullah bin Zubair bin Awwam. Sahabat yang tak luput dari kesalahan. Aisyah disebut Ummu Abdullah karena ialah yang mengasuh Abdullah bin Zubair bin Awwam ini ketika kecilnya. Ayahnya, Zubair bin Awwam adalah satu dari enam anggota tim formatur pada masa Khalifah Umar. Abdullah dibesaran dalam rumah tangga Rasulullah.
Apa yang saya paparkan diatas bukanlah bermaksud untuk menelanjangi para shahabat dan thabi’in yang mulia seperti yang dikatakan Hasan Al Bashri bahwa Umar bin Abdul Aziz itu tidak ada apaapanya dibandingkan dengan bulu hidung Mu’awiyah. Akan tetapi, tujuan yang hendak saya capai adalah menunjukkan bahwa meskipun Rasulullah mengatakan dan menjamin bahwa geberasi terbaik ada pada tiga generasi tersebut, namun tetap saja ada beberapa manusia yang melakukan kekhilafan.
“Semua anak Adam itu bersalah,” kata Rasulullah, “Dan sebaikbaik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat.”
Dalam tiga generasi terbaik pun bisa melakukan kesalahan personal. Maka jangan heran jka di dalam generasi yang seperti saat ini ada banyak kesalahan. Namun yang perlu dicatat adalah bahwa generasi terbaik itu kemudian bangkit untuk menghapus kesalahannya terdahulu. Inilah yang perlu kita contoh dari mereka.
Ekspektasi berlebihan terhadap manusia sering menyadarkan kepada mereka yang berekspektasi bahwa ekspektasinya kepada seseorang adalah kesalahan dan mengalamatkannya dengan sebutan bukan malaikat. Memang benar! Dan ketika ekspektasi itu tertuju kepada para ikhwan, saya hanya bisa mengatakan bahwa [IBM] : Ikhwan Bukan Malaikat, Ikhwan Berwujud Manusia
Maraji’:
Fi Zhilalil Qur’an Jilid 23, Sayyid Quthb
Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid 2, Prof. DR. Ahmad Syalabi
Riyadhus Shalihin jilid 1, Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An Nawawi
Komentar Terbaru