
Miris rasanya, mendengar keluhan sahabat saya, Amrulloh –Ketua Aliansi Masyarakat Miskin Malang-, bahwa di Kota Malang (Yang mengklaim sebagai kota Pendidikan Internasional) saja terdapat lebih dari 5000 anak putus sekolah. Terlepas, akurat atau tidaknya data yang beliau sampaikan, hal ini tetap saja memilukan sekaligus memalukan. Dunia pendidikan di Indonesia , pada umumnya, selalu mengalami pasang surut. Dunia pendidikan tidak dijadikan sebagai arus utama dalam proses kebijakan pembangunan bangsa. Apalagi dengan selalu berubahnya kebijakan secara nasional. Paling tidak ada hal-hal besar yang dapat kita lihat dalam keseharian kita dimana pendidikan kita cendrung mengabaikan nilai HAM. Padahal sejatinya pendidikan menjadi hak setiap warga negara
Ada beberapa hal yang kemudian yang dapat kita lihat sebagai sebuah realitas di lapangan:
1. Mahalnya biaya pendidikan
Dalam hal pembiayaan masyarakat saat ini cenderung akan berpikir ulang jika kemudian akan melanjutkan putra-putrinya pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sehingga mereka akan bersusah payah mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk tetap melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi. Dapat kita lihat bagaimana sebuah institusi pendidikan yang dikelola oleh negara begitu mahal mengeluarkan biaya pendidikan, hingga mencapai angka jutaan padahal hal tersebut dulu hanya lazim dilakukan oleh sekolah swasta yang memang mengandalkan biaya dari siswa sebagai sumber dana operasionalnnya.
2. Minimnya fasilitas bagi peserta didik
Minimmnya fasilitas akan berakibat pada lemahanya daya imajinasi anak didik terhadap gambaran sebuah teori atas kenyataan sesungguhnya dilapangan.
3. Kesenjangan sosial
Kesenjangan dunia pendidikan sangat dirasakan dinegara kita, dimana sekolah-sekolah yang berada dekat dengan pusat perkotaan cenderung akan memiliki kondisi yang cukup baik dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang berada pada tempat terpencil walaupun tidak jarang ada beberepa sekoklah yang berada dekat pusat perkotaan juga mengalami hal yang sama, sehingga proses pengembangan peserta didik cenderung tidak merata disetiap daerah. Hal ini akan mengakibatkan tingkat kemajuan pendidikan yang berbeda jauh.
4. Pola pengajaran yang tidak dialogis dan cendrung doktriner
Pola pengajaran yang hanya mengandalkan pengajar sebagai narasumber akan melemahkan potensi anak dalam mengembangkan kreatifitas berfikirnya. Sangat kita pahami bersama bahwa peserta didik seharusnya tidak menjadi objek tetapi harus menjadi subjek.
5. tolak ukur keberhasilan lebih cenderung pada angka dibandingkan norma
Tolak ukur keberhasilan hanya disandarkan pada angka matematis, padahal peserta didik akan menghadapi interaksi nyata di masyarakat yang membutuhkan kepekaan sosial.
Dari uraian diatas kita memahami betapa dunia pendidikan di negara kita masih masih rendah dari fasilitas, tingkat pemerataan bahkan pola pendidikannya.
Sehingga dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa dunia pendidikan di Indonesia belum sejalan dengan cita – cita founding father kita , “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”.
Lalu apa yang harus kita upayakan untuk menuju ke arah tesebut. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan antara lain:
1. Menjadikan dunia pendidikan sebgai batu pijakan awal proses pengembangan pembangunan bangsa dengan mendorong seluruh komponen pemerintah dan masyarakat agar terlibat aktif didalam proses tersebut.
2. Menjadikan peserta didik sebagai subjek yang aktif dan kritis dalam proses pendidikan sehingga wawasan peseta didik dapat berkembang dengan baik.
3. Menjadikan tolak ukur keberhasilan tidak hanya betumpu pada angka saja, tetapi lebih diarahkan pada keberhasilan mental dan sikap, agar kemudian dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan masyarakat.
Berbagai sumber
Sesaat setelah dihubungi akh Roby –Ketua KAMMI Daerah Malang 2009/2011- via sms bahwa saya mendapatkan amanah baru, ketua Departemen Humas, respon spontan dalam hati saya adalah ,”it’s a difficult thing..”, suatu hal yang tidak mudah. Meski kemudian, akh Roby memaparkan banyak alasan “kenapa harus memilih saya” yang pada akhirnya bisa juga meluluhkan pertahanan saya, tetap saja ini artinya saya harus sedikit merubah arah haluan dalam peta hidup saya. Dan, ini tidak mudah.
Tak terhitung suka duka yang pernah saya alami selama bersama Mujahid, nama kesayangan untuk motor pertama saya. Dari mulai diserempet dan tabrakan sesama motor, ban pecah atau bocor, rem blong, rantai lepas, mogok ditengah jalan, dan tidak sadar bahwa bensin sudah habis,. Serta kelupaan – kelupaan yang lainnya , namun yang paling sering adalah diteriakin orang di jalan karena dikira lupa membetulkan standar, saya hanya cengengesan saja. Sebenarnya bukan lupa, tapi memang Mujahid ini sudah terlalu banyak kehilangan fungsi normalnya. Dan, sebagai pembalasan, saya paling senang kalau memergoki orang lain yang juga lupa membetulkan standarnya, saya langsung otomatis teriak….”woooyyy standarnya tuh!! “….hehehe, puas banget gitu bisa ngeliat kesalahan orang, padahal saya juga sering diteriakin orang. Astagfirullah..
Berkali-kali kta mendengar kata perubahan. Selalu saja yang terbayang adalah perbaikan. Saat pelayan baru negeri ini terpilih, maka perubahan menjadi satu sisi mata uang yang lain bagi pelayan. Harapan demi harapan beriringan dengan kecemasan. Optimis dan pesimis menjadi nampak begitu kabur sehingga dalam kondisi yang kritis sangat dimungkinkan terjadi ledakan-ledakan emosi.










Komentar Terbaru