Archive for » September, 2009 «

September 27th, 2009 | Author: andrik

perjuangan skolah

Miris rasanya, mendengar keluhan sahabat saya, Amrulloh –Ketua Aliansi Masyarakat Miskin Malang-, bahwa di Kota Malang (Yang mengklaim sebagai kota Pendidikan Internasional) saja terdapat lebih dari 5000 anak putus sekolah. Terlepas, akurat atau tidaknya data yang beliau sampaikan, hal ini tetap saja memilukan sekaligus memalukan. Dunia pendidikan di Indonesia , pada umumnya, selalu mengalami pasang surut. Dunia pendidikan tidak dijadikan sebagai arus utama dalam proses kebijakan pembangunan bangsa. Apalagi dengan selalu berubahnya kebijakan secara nasional. Paling tidak ada hal-hal besar yang dapat kita lihat dalam keseharian kita dimana pendidikan kita cendrung mengabaikan nilai HAM. Padahal sejatinya pendidikan menjadi hak setiap warga negara
Ada beberapa hal yang kemudian yang dapat kita lihat sebagai sebuah realitas di lapangan:

1. Mahalnya biaya pendidikan
Dalam hal pembiayaan masyarakat saat ini cenderung akan berpikir ulang jika kemudian akan melanjutkan putra-putrinya pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sehingga mereka akan bersusah payah mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk tetap melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi. Dapat kita lihat bagaimana sebuah institusi pendidikan yang dikelola oleh negara begitu mahal mengeluarkan biaya pendidikan, hingga mencapai angka jutaan padahal hal tersebut dulu hanya lazim dilakukan oleh sekolah swasta yang memang mengandalkan biaya dari siswa sebagai sumber dana operasionalnnya.
2. Minimnya fasilitas bagi peserta didik
Minimmnya fasilitas akan berakibat pada lemahanya daya imajinasi anak didik terhadap gambaran sebuah teori atas kenyataan sesungguhnya dilapangan.
3. Kesenjangan sosial
Kesenjangan dunia pendidikan sangat dirasakan dinegara kita, dimana sekolah-sekolah yang berada dekat dengan pusat perkotaan cenderung akan memiliki kondisi yang cukup baik dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang berada pada tempat terpencil walaupun tidak jarang ada beberepa sekoklah yang berada dekat pusat perkotaan juga mengalami hal yang sama, sehingga proses pengembangan peserta didik cenderung tidak merata disetiap daerah. Hal ini akan mengakibatkan tingkat kemajuan pendidikan yang berbeda jauh.
4. Pola pengajaran yang tidak dialogis dan cendrung doktriner
Pola pengajaran yang hanya mengandalkan pengajar sebagai narasumber akan melemahkan potensi anak dalam mengembangkan kreatifitas berfikirnya. Sangat kita pahami bersama bahwa peserta didik seharusnya tidak menjadi objek tetapi harus menjadi subjek.
5. tolak ukur keberhasilan lebih cenderung pada angka dibandingkan norma
Tolak ukur keberhasilan hanya disandarkan pada angka matematis, padahal peserta didik akan menghadapi interaksi nyata di masyarakat yang membutuhkan kepekaan sosial.
Dari uraian diatas kita memahami betapa dunia pendidikan di negara kita masih masih rendah dari fasilitas, tingkat pemerataan bahkan pola pendidikannya.
Sehingga dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa dunia pendidikan di Indonesia belum sejalan dengan cita – cita founding father kita , “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”.

Lalu apa yang harus kita upayakan untuk menuju ke arah tesebut. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan antara lain:
1. Menjadikan dunia pendidikan sebgai batu pijakan awal proses pengembangan pembangunan bangsa dengan mendorong seluruh komponen pemerintah dan masyarakat agar terlibat aktif didalam proses tersebut.
2. Menjadikan peserta didik sebagai subjek yang aktif dan kritis dalam proses pendidikan sehingga wawasan peseta didik dapat berkembang dengan baik.
3. Menjadikan tolak ukur keberhasilan tidak hanya betumpu pada angka saja, tetapi lebih diarahkan pada keberhasilan mental dan sikap, agar kemudian dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan masyarakat.

Berbagai sumber

Category: Education  | Tags: , ,  | 15 Comments
September 27th, 2009 | Author: andrik

Ilmu komputer (Ilkom), atau dalam bahasa Inggrisnya disebut Computer Science (CS), secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik tentang komputasi, perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Ilmu komputer mencakup beragam topik yang berkaitan dengan komputer, mulai dari analisa abstrak algoritma sampai subyek yang lebih konkret seperti bahasa pemrograman, perangkat lunak, termasuk perangkat keras. Sebagai suatu disiplin ilmu, Ilmu Komputer lebih menekankan pada pemrograman komputer, dan rekayasa perangkat lunak (software), sementara teknik komputer lebih cenderung berkaitan dengan hal-hal seperti perangkat keras komputer (hardware). Namun demikian, kedua istilah tersebut sering disalah-artikan oleh banyak orang.

Ilmu komputer bukan tentang komputer sebagaimana astronomi bukan tentang teleskop. (Edsger Dijkstra)

Tesis Church-Turing menyatakan bahwa semua alat komputasi yang telah umum diketahui sebenarnya sama dalam hal apa yang bisa mereka lakukan, sekalipun dengan efisiensi yang berbeda. Tesis ini terkadang dianggap sebagai prinsip dasar dari ilmu komputer. Para ahli ilmu komputer biasanya menekankan komputer von Neumann atau mesin Turing (komputer yang mengerjakan tugas yang kecil dan deterministik pada suatu waktu tertentu), karena hal seperti itulah kebanyakan komputer digunakan sekarang ini. Para ahli ilmu komputer juga mempelajari jenis mesin yang lain, beberapa diantaranya belum bisa dipakai secara praktikal (seperti komputer neural, komputer DNA, dan komputer kuantum) serta beberapa diantaranya masih cukup teoritis (seperti komputer random and komputer oracle).

Ilmu Komputer mempelajari apa yang bisa dilakukan oleh beberapa program, dan apa yang tidak (komputabilitas dan intelegensia buatan), bagaimana program itu harus mengevaluasi suatu hasil (algoritma), bagaimana program harus menyimpan dan mengambil bit tertentu dari suatu informasi (struktur data), dan bagaimana program dan pengguna berkomunikasi (antarmuka pengguna dan bahasa pemrograman).

Ilmu komputer berakar dari elektronika, matematika dan linguistik. Dalam tiga dekade terakhir dari abad 20, ilmu komputer telah menjadi suatu disiplin ilmu baru dan telah mengembangkan metode dan istilah sendiri.

Ilmu komputer berkaitan erat dengan beberapa bidang lain. Bidang-bidang ini tidak benar-benar terpisah, sekalipun mempunyai perbedaan penting.

Menurut Computing Curricula, yaitu panduan kurikulum bidang komputer (computing) yang diterbitkan secara bersama oleh ACM (the Association for Computing Machinery), AIS (the Association for Information System) dan IEEE-CS (the IEEE Computer Society), terdapat panduan tentang penyelenggaraan, penamaan mata kuliah beserta pembobotannya dan penyusunan kurikulum pada 5 jurusan, yaitu: Computer Engineering (CE, Teknik Komputer), Computer Science (CS, Ilmu Komputer), Information Systems (IS, Sistem Informasi), Information Technology (IT, Teknologi Informasi), Software Engineering (SE, Rekayasa Perangkat Lunak).

Computer Engineering (CE) (Jurusan Sistem Komputer atau Teknik Komputer) diharapkan menghasilkan lulusan yang mampu mendesain dan mengimplementasikan sistem yang terintegrasi baik software maupun hardware

Computer Science (CS) (Jurusan Teknik Informatika atau Ilmu Komputer) diharapkan menghasilkan lulusan dengan kemampuan yang cukup luas dimulai dari penguasaan teori (konsep) dan pengembangan software.

Information System (IS) (Jurusan Sistem Informasi atau Manajemen Informatika) menekankan finansial dan personal manajemen. ‘Sistem Informasi’ dapat berupa gabungan dari beberapa elemen teknologi berbasis komputer yang saling berinteraksi dan bekerja sama berdasarkan suatu prosedur kerja (aturan kerja) yang telah ditetapkan, dimana memproses dan mengolah data menjadi suatu bentuk informasi yang dapat digunakan dalam mendukung keputusan.

Lulusan IS diharapkan mampu menganalisa kebutuhan (requirement) dan proses bisnis (business process), serta mendesain sistem berdasarkan tujuan dari organisasi

Information Technology (IT) diharapkan menghasilkan lulusan yang mampu bekerja secara efektif dalam merencanakan, mengimplementasikan, mengkonfigurasi dan memaintain infrastruktur teknologi informasi dalam organisasi.

Software Engineering (SE) diharapkan menghasilkan lulusan yang mampu mengelola aktifitas pengembangan software berskala besar dalam tiap tahapannya (software development life cycle).

Sedangkan di Indonesia, dari kelima jurusan tersebut direduksi menjadi 3 jurusan, yaitu :

  1. Computer Science untuk program studi (jurusan) Teknik Informatika atau Ilmu Komputer
  2. Computer Engineering untuk program studi (jurusan) Sistem Komputer atau Teknik Komputer
  3. Information System untuk Sistem Informasi atau Manajemen Informatika.

Lalu dimana software enginering dan information technology ? Kita, di Indonesia,  bisa menemukannya dalam salah satu mata kuliah diprogram studi Ilmu Komputer atau Teknik Informatika. Jadi, dimana jurusan bagi yang suka animasi dan desain grafis ? Menurut, Romi Satrio Wahono, jangan masuk ketiga jurusan diatas jika ingin mahir desain dan animasi. Karena sudah hampir pasti akan menyesal.

Andrik Prastiyono

Bacaan Referensi :

-          Tips dan trik memilih jurusan komputer (Romi Satrio Wahono)

-          Wikipedia

September 27th, 2009 | Author: andrik

humas gerakanSesaat setelah dihubungi akh Roby –Ketua KAMMI Daerah Malang 2009/2011- via sms bahwa saya mendapatkan amanah baru, ketua Departemen Humas, respon spontan dalam hati saya adalah ,”it’s a difficult thing..”, suatu hal yang tidak mudah. Meski kemudian, akh Roby memaparkan banyak alasan “kenapa harus memilih saya” yang pada akhirnya bisa juga meluluhkan pertahanan saya, tetap saja ini artinya saya harus sedikit merubah arah haluan dalam peta hidup saya. Dan, ini tidak mudah.

Sebab, menjadi humas, adalah kata lain dari bagaimana mencitrakan sebuah organisasi. Aduuh, ini sama saja dengan menjawab pertanyaan, “Bagaimana sih caranya menjadi orang yang baik?”. Semua pasti sudah tau jawabnya. Tahapan demi tahapan. Point demi point. Setrip demi setrip pasti akan lancar benar diucapkan. Dalam contoh kecil, maka menjadi seorang humas haruslah menjadi sosok yang bagaimana jika seseorang melihat, berbicara dan bergaul dengannya senantiasa mendapatkan kebaikan. Jika kemudian di flashback kebelakang napak tilas karir saya di kajian strategis yang lebih dominan sosok oposan, kritikus, hantam sana hantam sini, maka menjadi “orang baik” dihumas adalah bukan sesuatu hidangan yang gurih untuk dikunyah dalam waktu dekat ini.

Dilain sisi, saya bersyukur beramanah di humas. Karena, dengan menjadi humas, saya bisa bermain – main dengan kuasa wacana. Ya, kuasa wacana. Bukan berarti saya gila kepopularitasan, oh sama sekali tidak. Naudzubillah. Dalam lintasan sejarah, kuasa wacana selalu memegang kuasa penting dalam menentukan arah perjalanan sebuah peradaban. Sebutlah misal, Napoleon ternyata lebih takut kepada pena seorang wartawan daripada pasukan sebesar apapun. Napoleon tak bisa lagi mendengungkan semboyan pendahulunya, Louis XIV, yang selalu berkata, “L’tat ces moi…!”, Negara adalah saya. Tatkala ia mengalami antiklimaks dalam karirnya saat penyerangann ke Rusia.

Lalu, ada fir’aun. Yang mampu menciptakan kuasa wacana bahkan legitimasi untuk membunuh sang rasul, Musa. Tuduhan, bahwa Musa adalah seorang pengacau dan pembuat kerusakan ia sematkan dengan permainan bahasa yang luar biasa. Dia membangun sebuah pembenaran, bukan kebenaran. Dia menata dengan cantik teori – teorinya, parameter – parameternya, serta data – data pendukungnya. Sehingga, apapun kebijakan politis yang dia ambil, maka rakyatnya akan selalu berpihak kepadanya. Layaknya ajaran dalam kitab “How to Lie with statistic”, fir’aun dengan sukses membangun pijakan – pijakan atas klaimnya. Dan nampaknya, presiden kita SBY, meskipun bukan fir’aun, juga sangat ahli dan lihai dalam permainan ini.

Dalam konteks kekinian, kitapun baru saja disuguhi sebuah tontonan kolosal awal tahun dari kelihaian humas Israel. Bahwa penjajahan bahkan genosida zaman modern sebenarnya terpampang nyata di depan mata, saat Israel menginvasi Palestina bulan lalu. Namun faktanya, tidak semua orang mengamini bahwa itu adalah sebuah penjajahan bahkan ada pula yang membela. Salah satu sebabnya adalah kelihaian humas Israel dalam melayani pers asing. Konon, begitu seorang jurnalis asing tiba dan menerima kartu pers, alamat e-mail-nya akan segera dibanjiri berbagai siaran pers. Setiap hari, telepon selulernya juga nyaris tak akan berhenti berdering, untuk menerima kontak dari petugas humas Israel, yang sudah siap dengan berbagai saran untuk meliput isu-isu tertentu. Mereka juga menyediakan makanan dan transportasi gratis, menyediakan narasumber untuk diwawancarai, hotel untuk konferensi pers. Semua kebutuhan pers telah disediakan, diarahkan, dengan tujuan agar pemberitaan ’berpihak’ atau minimal berempati kepada agreasi yang dilakukan Israel.

Bagi media kritis yang memberitakan pemberitaan alternatif, Israel tak segan-segan menggunakan ’kuasanya’ untuk memberangus media yang bersangkutan. Ini dilakukan di India (atas desakan Israel) yang melarang Al-Jazeera mengudara. Pelarangan ini agar tayangan kesadisan dan kebrutalan Israel tak disaksikan oleh penduduk dunia. Bagi antum yang ingin melihat sedikit kelihaian bahasa diplomasi humas Israel bisa melihatnya dalam wawancara detik.com beberapa waktu yang lalu.

Dan, ketika saya berhenti sejenak dalam perenungan. Akhirnya saya menemukan bahwa dalam kacamata Tan Malaka pada Madilog-nya, ” Catatan yang sempurna dan jitu bisa menaklukan musuh, kawan, ataupun guru. Catatan yang sempurna dan jitu bisa menaklukan musuh secepat kilat dan bisa merebut kesepakatan dan kepercayaan yang bersimpati sepenuh-penuhnya. Baik dalam polemik, perang pena, baik dalam propaganda. Maka catatan itu adalah barang yang tidak bisa ketinggalan, seperti semen dan batu tembok untuk membangun gedung”. Akhirnya memantik sebuah kesadaran, bahwa kami adalah seorang muslim. Yang telah digariskan Allah sebagai ummat terbaik. Sangat faham, bahwa memenangkan wacana adalah salah satu bagian terpenting untuk memenangkan jihad – jihad kami. Dan, menjadi humas semakin mendekatkan kami kepada surga. Insya Allah.

September 12th, 2009 | Author: andrik

sahabat perjuanganTak terhitung suka duka yang pernah saya alami selama bersama Mujahid, nama kesayangan untuk motor pertama saya. Dari mulai diserempet dan tabrakan sesama motor, ban pecah atau bocor, rem blong, rantai lepas, mogok ditengah jalan, dan tidak sadar bahwa bensin sudah habis,. Serta kelupaan – kelupaan yang lainnya , namun yang paling sering adalah diteriakin orang di jalan karena dikira lupa membetulkan standar, saya hanya cengengesan saja. Sebenarnya bukan lupa, tapi memang Mujahid ini sudah terlalu banyak kehilangan fungsi normalnya. Dan, sebagai pembalasan, saya paling senang kalau memergoki orang lain yang juga lupa membetulkan standarnya, saya langsung otomatis teriak….”woooyyy standarnya tuh!! “….hehehe, puas banget gitu bisa ngeliat kesalahan orang, padahal saya juga sering diteriakin orang. Astagfirullah..

Yah begitulah, kuda roda dua, yang telah menjadi saksi bisu atas 6 tahun perjalanan hidup saya, yang rela joknya diduduki makhluk yang tak kenal waktu dan cuaca. Dari kelas 1 SMA sampai kini semester 6 di Universitas Brawijaya. Mujahid ini bukan motor bagus keluaran terbaru, tapi beliau (saking hormatnya saya atas semua jasa – jasanya) cuma motor honda prima tahun 1987. Yang bahkan lebih tua dari tahun kelahiran penumpangnya. Saya tidak pernah tersinggung kok kalau ada motor lain yang menyalip sambil bunyi’in klakson. Karena sadar diri emang motornya nggak bisa buat ngebut. Meski paling keki juga kalau disalip sama akhwat – akhwat “jigong*” itu.
Palingan si Mujahid ini bisa ngebalap becak sama sepeda doang, itupun juga sudah membuat saya girang banget , hehe, ah ga masalah deh bisa menyalip atau nggak, tapi yang penting bisa sampai tujuan dengan selamat, cie. (Apologi Mode On). Kalau lagi lampu merah dan berjajar dengan motor-motor canggih lainnya, berasa Mujahid ini yang paling butuuuuuuuuuuut banget, kalo motornya bisa seperti manusia, mungkin Mujahid ini sudah nutupin wajahnya pakai sapu tangan karena malu, hehe…

Meskipun demikian, saya sangat dan sangat mensyukurinya, nikmat dan karunia yang ALLAH berikan. Jadi inget kata Murobbi pertama saya di SMA dulu, nilai harta itu bukan dari bagus atau mahalnya tapi dari bagaimana kita mensyukurinya. Hmm….. dalem banget ya…. Kadang kita sibuk menggugat Allah atas harta yang belum kita miliki tapi malas untuk mengucap rasa syukur atas harta yang sudah kita miliki, padahal kalau mau diinget – inget lagi, banyak lho nikmat yang Allah beri tanpa kita minta. Mungkin sudah saatnya kita menyelami makna bersyukurnya Rasululah dan para sahabatnya dalam rangkaian zuhudnya.

Inilah dia, kuda beroda dua,
Kuda tunggangan, tercanggih milik kita
Berlari dengan kecepatan sahaja,
Memburu waktu alternatif yang ada
Sebuah kendaraan motor roda dua, buatan pabrik dua windu dulu kala.

Meskipun demikian kami mensyukurinya nikmat dan karunia yang Allah berikan
Karena itu adalah hakekatnya amanah yang dititipkan oleh Allah

Rasulullah tlah mengajarkan kita
Untuk berzuhud terhadap harta dunia,
Qonaah dengan segala pemberianNYA
Istiqomah napak tilasi jalan Surga
(zuhud III, Suara Persaudaraan).

Yah, sedih yang tak terperi, saat abi memutuskan untuk mempensiunkan mujahid ini. Beneran, air mata ini menetes saat Mujahid diambil oleh majikan barunya. Berasa seperti diputus pacar saja (Padahal belum pernah pacaran, hehe). Bagaimana tidak, 6 tahun lamanya kami bersama. Mujahid begitu setia menemaniku, meski seringkali memaksakan kondisinya yang memang sudah tua. Dan, kini, Mujahid harus beristirahat dengan tenang dialamnya.

2 minggu saya mengalami masa – masa penantian. Bertanya – tanya, siapakah gerangan yang akan menjadi pengganti Mujahidku ini. selama masa penantian itulah saya menjadi banyak belajar, merasakan betapa besar kebermanfaatan yang telah diberikan Mujahid. Berjalan kaki, meski banyak orang bilang itu adalah sesuatu yang sehat, tapi sangat menyiksaku dengan kesendirian menantinya.

Dan, Alhamdulillah, akhirnya penantian itu tidak sia – sia. Telfon dari abi akhirnya saya terima.

“Le, sesuk bali nang magetan yo. Mengko nggolek gantine sepedamu. Bapak yo mesakke yen awakmu kudu mlaku nak arep nangdi – nangdi”.

Yang jika diterjemahkan kira – kira begini,
“Nak, besok pulang ke Magetan ya.. Nanti, nyari pengganti sepedamu. Bapak kasihan, jika ananda harus jalan kaki jika mau kemana – mana”.

Tak berfikir lama, besoknya saya langsung semangat untuk pulang kampung. Menjelajah jarak sejauh lebih dari 200km. melewati gunung dan lembah. Menerjang hujan dan jurang. Hehehe..
Sesampai di Magetan, Setelah menelusuri hampir 10 dealer motor, akhirnya kini kutemukan Mujahid Muda-ku. Lebih bangganya lagi, dalam darah Mujahid baruku ini, ada saham dari hasil keringatku sendiri. Allahu Akbar !!!

Hai mujahid muda
maju kehadapan
sibakkan penghalang
satukan tujuan
kibarkan panji Islam dalam satu barisan
Bersama berjuang kita junjung keadilan

Jangan bimbang ragu
Tetaplah melaju
Hapus bayang semu
Di lubuk hatimu
Bergerak kedepan bagai gelombang samudra
Lantakkan tirani runtuhkan angkara murka

Majulah wahai mujahid muda
Dalam satu cita tegak keadilan
Singkirkan batas satukan kata
Kebangkitan Islam telah datang

Munsyid : Izzatul Islam

* jigong = jilbab gondrong

September 10th, 2009 | Author: andrik

berubahBerkali-kali kta mendengar kata perubahan. Selalu saja yang terbayang adalah perbaikan. Saat pelayan baru negeri ini terpilih, maka perubahan menjadi satu sisi mata uang yang lain bagi pelayan. Harapan demi harapan beriringan dengan kecemasan. Optimis dan pesimis menjadi nampak begitu kabur sehingga dalam kondisi yang kritis sangat dimungkinkan terjadi ledakan-ledakan emosi.

Pun demikian ketika dalam dinamika sebuah organisasi gerakan mahasiswa, perubahan atau mungkin lebih tepatnya penekanan terjadi dari gerakan jalanan nan reaksioner menuju gerakan berbasis intelektual profetik lalu sekarang mengusung muslim negarawan.

Independensi perubahan.

Sebagai sebuah sunnatullah, perubahan sesungguhnya mejadi sesuatu yang sangat wajar dan netral. Artinya, setiap perubahan selalu mengundang dua konsekuensi, yaitu perbaikan atau kerusakan, kemajuan atau kemunduran. Konsekuensi ini merupakan biaya yang harus dibayar atas sebuah keputusan. Kita telah memutuskan akan berjalan diatas Gerakan Intelektual Profetik.
Kita pun juga telah merumuskan muslim negarawan,maka dimana posisi kita? Disinilah kita dihadapkan pada pilihan, kita akan mewarnai perubahan ini dengan apa? Kebingungan, keyakinan atau dengan ketidakyakinan.

Kader dipersimpangan jalan
Dia berada di KAMMI, bahkan berputar bersamanya. Tapi dia selalu menyenangi untuk menunggu. Ibarat pendatang yang tak tahu arah, sehingga lama diam mematung. Jasadnya mungkin bergerak, tapi pikirannya tidak kunjung bergerak untuk mencari tau apa itu Gerakan Intelektual Profetik. Baginya yang penting saya sering ikut kegiatan KAMMI. Kader seperti ini tentu tidak dapat dibiarkan bingung berkepanjangan.

Dia harapan Gerakan
Semangatnya tinggi. Kecemasan dan kecintaannya membuatnya selalu berusaha mencari sebuah pemahaman terhadap kondisi KAMMI. Seperti Ibrahim yang mencari Tuhanya atau Seorang Muhammad, SAW yang berusaha menemukan kehidupan yang lurus. Dia tidak pernah nyaman dengan stagnasi atau kejumudan. Maka pena nya bergerak merumuskan perbaikan, mulutnya terus berdialeketika, sorot matanya terus menyiratkan keyakinan dan seluruh anggota tubuhnya terus mengasah potensinya.

Apakah dia kader?
Dia berada diKAMMI. Diapun memiliki kecemasan. Tapi semuanya lahir dari rahim ketidakyakinan, apatis dan fatalis. Maka alangkah wajar jika sikapnya sama dengan orang yang alergi dengan KAMMI. Dia kehilangan cerita heroik KAMMI tapi tidak pernah bertanya mengapa. Dia disibukkan dengan pembicaraan orang lain dan tidak memandang perubahan paradigma Gerakan Intelektual Profetik secara objektif, persis cerita orang buta yang memegang gajah.
Jadi, kontribusinya terletak pada cemoohan dan bukan pada solusi.

Solusi Sinergi
Rahim KAMMI telah melahirkan rumusan Gerakan Intelektual Profetik. Paradigma ini harus diusung dengan sinergi antara aksi, kaderisasi dan struktur organisasi. Apa jadinya konsep yang bagus tanpa kaderisasi yang menunjang kearah sana. Jika kaderisasi tidak menunjang, mungkinkah terwujud aksi yang diharapkan. Jika struktur organisasi tidak kunjung ajeg, apakah bisa melahirkan perbaikan. Wallahua’lam, kita puya peluang untuk mewarnai jawabannya.