Archive for » May, 2009 «

May 25th, 2009 | Author: andrik
Setiap manusia, ikhwan akhwat ataupun manusia biasa, pasti akan mengalami tiga jenis ujian dalam hidupnya. Meski kadarnya berbeda – beda bagi setiap orang. Lawan jenis, harta dunia dan status sosial. Ketiga jenis ujian inilah yang akan menjadi siklus tetap ujian bagi manusia. Sampai kapan ia akan terlepas dari ujian ini ? jawabnya adalah tatkala manusia itu telah menghembusan nafas terakhirnya.
Saat syetan sudah mulai putus asa, untuk menggoda para ikhwan atau akhwat bermaksiat secara terang – terangan. Nampaknya ujian jenis pertama inilah yang menjadi “momok” tersendiri bagi para aktivis dakwah yang masih berstatus mahasiswa. Bagaimana tidak ? interaksi yang begitu intens, pertemuan yang begitu sering, meski berlabel agenda dakwah tertentu, terkadang menjadi celah tersendiri bagi syetan untuk menggodanya dengan cara yang lain.

Belum lagi dengan kegiatan – kegiatan yang melibatkan interaksi dengan lawan jenis diluar kegatan – kegiatan berlabel dakwah. Rapat himpunan, rapat BEM, sampai pada mengerjakan tugas kelompok yang menjadi makanan sehari – hari bagi sebagaian mahasiswa pada prodi tertentu. Tentu berkikhtilat, bercampur baur, dengan lawan jenis adalah sesuatu yang tidak mungkin untuk dihindari. Meskipun untuk hal yang terakhir, pendidikan, sebagaian ulama memafhumkan hal tersebut.

Fenomena – fenomena semacam inilah yang kemudian mengharuskan ana, antum, dan semua yang mengaku sebagai pengemban risalah Allah yang teguh memegang prinsip agama untuk memahami suatu ilmu tentang fiqh ikhtilat. Pengetahuan yang mendalam tentang hukum – hokum berinteraksi dengan lawan jenis sesuai dengan ajaran dien ini. Hal ini penting untuk difahami, agar kita tidak menjadi ragu – ragu dalam berinteraksi atau bahkan salah dalam menempatkan diri dalam sebuah keadaan.

Ikhwan dan akhwat fillah, ikhtilat secara dhahir memang adalah bagaimana kita secara fisik berada dalam sebuah tempat bersama lawan jenis yang bukan muhrim dalam suatu urusan yang tidak sesuai dengan kaidah syar’i. Namun, lebih daripada itu, kini ikhtilat – ikhtilat itu telah berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi. Hal ini menarik untuk dicermati, dikarenakan hal ini pula, MUI di kota Kediri, Jawa Timur (JawaPos, 23 mei 2009) mengeluarkan fatwa haram untuk sebuah sistus jejaring social, Facebook. Bukan karena alas an ideologis idealis seperti ana. Namun, lebih kepada sisi mudhorot yang diimplikasikan oleh situs jejaring sosial tersebut. Yaitu, mengharamkan Facebook jika digunakan untuk menggunjing, gossip atau PDKT.

Demikian juga dengan ikhtilat, seiring perkembangan zaman, ikhtilat maupun khalwat tak lagi mengharuskan dua fisik bertemu dalam satu lokasi. Cukuplah kiranya sms – sms kita kepada lawan jenis bukan mahram yang bisa membuat hati gelisah itu termasuk dalam kategori ikhtilat. Atau telfon – telfon berlebihan, chat – chat yang tiada guna dan tujuan, pun bisa dikategorikan dalam ikhtilat gaya baru.

Kebanyakan, hasil – hasil dari ikhtilat adalah timbulnya perasaan “deg – deg ser” kepada lawan jenis tersebut. Dalam bahasa lain dapat diterjemahkan menjadi, cinta, tresno atau apalah lain sejenisnya. Bagi kalangan aktivis perasaan cinta sebelum nikah banyak disebut dengan Virus Merah Jambu. Padahal warna merah jambu adalah warna yang indah dan cerah. Menurut ana kurang tepat jika virus yang bisa merusak ini disebut dengan Virus Merah Jambu. Ana menyebutnya sebagai Virus Panah Iblis karena virus ini lebih sering muncul karena pandangan yang tidak terjaga. Dalam sebuah hadits qudsi:

“Pandangan mata adalah panah beracun dari antara panah-panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada-Ku maka Aku ganti dengan keimanan yang dirasakan manis dalam hatinya.” (HR. Al Hakim).

Maka, barang siapa yang meninggalkan pandangan jelalatan karena takut Allah niscaya akan diberikan kepadanya rasa manisnya iman di hati. Mungkin juga manis yang dimaksud adalah manisnya cinta hakiki.

Lalu bagaimana jika ikhtilat tidak bisa dihindari lagi ? Cara yang paling umum adalah beramal dengan ikhlas, gadhul bashar, puasa, hijab fisik dan jaga hati. Namun, jika itu semua belum juga bisa menundukan pandangan dan membuat hati tenang, maka solusi ini mungkin perlu dicoba, Nikah. Nikah akan mengalihkan pikiran dari pengharapan-pengharapan yang tidak perlu. Pengharapan yang selama ini menghantui telah berwujud menjadi bidadari yang setia menanti di rumah sendiri. Kalaupun ada godaan syetan di tengah jalan, ya, tinggal pulang saja. Di rumah ada yang halal kok.

Seperti yang ana ungkapkan di awal bahwa cinta sejati yang hakiki hanya akan terwujud jika telah melewati gerbang pernikahan ini. Jika belum melewatinya, ana masih menganggapnya syubhat. Sementara syubhat dan snafsu hanya bisa dihalalkan lewat jalur pernikahan.

May 25th, 2009 | Author: andrik
HMI, Himpunan Mahasiswa Islam, adalah salah satu dari sekian banyak wadah gerakan mahasiswa (student movement) di Indonesia. Bahkan bisa dikatakan, HMI-lah gerakan mahasiswa yang secara keorganisasian yang memiliki jaringan alumni yang sangat kuat, KAHMI.
Dari gerakan mahasiswa ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran yang berguna bagi kita. Memang, secara objektif, ada pelajaran yang baik dan adapula pelajaran yang kurang baik. Sama seperti semua gerakan mahasiswa yang lain, selalu ada kelebihan dan juga tidak luput dari kesalahan dan kelemahan. PMII, IMM, GMNI, KAMMI dan lain sebagainya pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan kelemahan.

Seperti dalam prinsip kaum nahdiyin, “Pertahankan yang baik, ambil yang baik dan buang yang buruk”, mari kita open mind dan membuka diri terhadap kelebihan saudara – saudara kita dalam gerakan mahasiswa yang lain.

Kembali kepada HMI, Himpunan mahasiswa ini memiliki beberapa kekuatan yang patut kita jadikan pelajaran dan rujukan.

Budaya intelektual yang tumbuh subur.

Terlepas dari apa yang dibaca dan apa yang menjadi produk intelektualnya, maka para kader – kader HMI bisa diacungi jempol untuk urusan yang satu ini. Buku – buku literatur bacaan mereka banyak. Kebiasaan membaca mereka luar biasa.

Dan produk – produk tulisan merekapun tak tanggung – tanggung, banyak kader mereka yang masih usia belia namun sudah bisa menerbitkan buku secara komersial. Setidaknya demikianlah yang saya ketahui dari beberapa rekan saya di HMI Cabang Malang.

Kekuatan Logika yang selalu terasah

Dari kebiasaan membaca literatur ilmiah ini, menghasilkan kemampuan berfikir secara logis dan sistematis. Tata urutan perkataan terdengar berirama seperti orang berlantun. Bahkan dibanyak kesempatan diskusi dengan mereka, kekuatan logika ini menjadi jurus pertama mereka sebelum mengeluarkan jurus – jurus referensi buku bacaan. Hal ini bisa dimaklumi, karena dalam banyak kesempatan alur pengkaderan HMI, kemampuan berlogika, diskusi dan dialektika itu selalu diasah. Bahkan tak jarang sampai larut malam.

Kemampuan diskusi yang diatas rata – rata

Hampir sama dengan kemampuan berlogika, dalam hal berdiskusipun, kita akan menemukan partner yang menyenangkan jika berdiskusi dengan teman – teman HMI. Tentunya, maksud saya adalah para pengurus HMI Cabang. Menyenangkan yang saya maksudkan adalah, diskusi dengan mereka akan lebih hidup. Pun demikian dalam beberapa masalah ideologi gerakan. Mereka tidak akan memaksakan kita untuk mengikuti cara berfikir mereka. Cukuplah dengan bersepakat dan berkerjasama dalam hal yang disepakati, dan saling toleran untuk hal yang tidak menjadi kesepakatan bersama. Begitu kira – kira prinsip mereka.

Pemberani

Berani yang saya maksudkan disini adalah, keberanian dalam hal berbicara dan bergerak. Entah benar entah salah. Entah berkelas atau tidak. Entah nyambung entah tidak. Kader – kader HMI selalu diajarkan untuk selalu berani berbicara. Oleh sebab itulah, jangan heran jika antum berada dalam satu forum dengan mereka, kebanyakan yang akan memulai berpendapat dan berdialektika adalah para kader – kader HMI. Setidaknya inilah yang saya temui dalam beberapa kesempatan dalam satu forum bersama mereka. Dan, menurut salah satu sumber yang terpercaya, hal ini adalah memang suatu kultur gerakan yang disengaja oleh HMI. Tujuannya, tentu saja untuk menaikan bargaining daya tawar posisi diri yang bersangkutan.

Jaringan alumni yang kuat

Berbicara mengenai jaringan alumni HMI, maka nama KAHMI – Keluarga Alumni HMI – adalah satu nama yang cukup familiar ditelinga kita. Bahkan, banyak ustad – ustad kitapun juga merupakan KAHMI. Jaringan alumni HMI ini, kalau boleh dibilang, sudah sangat menggurita. Dimana – mana dan pada posisi apa – apa ada. Maka tak heran jika dalam milad mereka beberapa waktu kemarin berhasil mendatangkan presiden SBY. Lha wong orang dekatnya pak SBY, cak Anas adalah mantan ketua PB HMI. Dan banyak kisah sukses alumni HMI yang lain. Salah satu nilai lebih dari alumni HMI ini adalah kepedulian mereka kepada adek – adek mereka yang masih menjadi anggota ataupun pengurus. Kepedulian ini tertransliterasikan dengan sokongan dana, link jaringan, maupun back up-an yang lain. Sehingga sayapun tak heran, jika banyak orang tua yang menyarankan anaknya untuk masuk HMI, paling nggak mendapatkan piagamnya saja sudah cukup. Tak lain dan tak bukan, tujuannya adalah agar bisa masuk kedalam link jaringan alumni yang sudah sangat kokoh ini.

Demikian pembahasan tentang kelebihan dan kebaikan HMI yang bisa kita jadikan bahan rujukan untuk muhasabah dan perbaikan diri serta jamaah kita kedepan. Sekali lagi, analisa diatas adalah murni dari pribadi saya, tidak mewakili suara organisasi mahasiswa yang kebetulan saya menjadi pengurus disana. Serta tidak membahas masalah ideologi atau benar – salahnya HMI, tapi hanya berbicara HMI sebagai sebuah organisasi. Wallahu ‘alam.

salam

AndrikPrastiyono.Net

May 25th, 2009 | Author: andrik
Hari ini, 21 tahun yang lalu,
tangis seorang bayi laki – laki pecah dikeheningan subuh.
kini, 21 tahun telah berlalu, ia telah tumbuh menjadi seorang pemuda.

Hari ini, 21 tahun, beratus tahun yang lalu,
Yusuf telah hampir menyelesaikan tarbiyahnya menjadi Sholahudin Al Ayubi. Dan, hari ini, 21 tahun yang sama dengan Yusuf,
adakah sama tarbiyah itu membentuknya ?

Untuk mencetak satu sejarah dalam peradaban. Untuk menaklukan simbol kekuatan kedzaliman. White House, Al Aqsa, Roma, Tel Aviv, menunggu pemuda itu.

Ya Allah, maafkan hamba, yang belum bisa berbuat banyak untukMu, untuk agamaMu, untuk keluarga dan untuk ummat.

harusnya ana posting 20 mei kemarin.
May 18th, 2009 | Author: andrik

Menjawab pertanyaan seorang adik kelas,

“Mas, Bolehkah ikhwan itu tampil rapi ? baju masuk, sepatu pantofel, nenteng laptop, dan naik motor atau mobil?” “Memangnya kenapa kok tanya gitu dik?” “soalnya gini mas, bla bla bla..-meceritakan segala hal ketidak rapian ikhwan yang selama ini ada di sekitarnya-”

Andaikan ikhwan tidak berpenampilan rapi, lalu bagaimanakah penerjemahan dari kesempurnaan tsaqofah dan pemahaman keimanan itu ? Memang, dalam tarbiyah kita diajari untuk “don’t judge something from the cover”. Jangan menghakimi sesuatu dari covernya. Tapi, demikiankah juga dengan perihal kerapian ? Andai kau tahu, ketularan gaya dari om Romi Satrio Wahono yang ketemu tempo hari, bukankah dengan matangnya tsaqofah dan tebalnya keimanan didalam hati akan terpancar melalui sikap hidup yang kemudian dinamakan dengan akhlaq ?

Akhlaqul karimah, salah satunya adalah indahnya dalam berpenamilan, rapi. Karena, Allah itu indah, dan menyukai keindahan. Miris hati ini, saat beberapa ikhwan, yang kebetulan saya temui, masih belum sepenuhnya memahami hal ini. Entahlah, saat saya coba bertanya, segudang alasan bisa saja meluncur dari beliau – beliau. Sibuklah, belum ada waktulah, ndak sempat ngurusi hal kecil-lah. Dan segenap alasan – alasan “pelarian” yang lain.

Coba antum bayangkan, ikhwan sebagai pengemban risalah dakwah, yang mencita – citakan Islam sebagai ustadziyatul ‘alam, tapi . . . .

Bagaimana bisa menata negara, jika menata kamar kost saja belum bisa ?
Bagaimana bisa merapikan birokrasi, jika baju saja malas menyetrika ?
Bagaimana bisa mengharumkan Islam, jika bau badan tak ada bedanya dengan rendaman cucian 3 hari?

Wahai ikhwan, rapi bukanlah berpenampilan serba wah, mahal, apalagi menjadi metrosexual. Cukup, hanya dengan sedikit modal saja, insya Allah kita semua bisa rapi. Minimal, sisir , minyak wangi dan setrika saja, insya Allah sudah cukup membuat sang ikhwan untuk menjadi rapi.

Andaikan sang ikhwan tidak berpenampilan rapi, lalu bagaimana ikhwan bisa memberikan suri tauladan yang baik kepada obyek dakwah? Kadang, masayarakat terlalu sulit untuk bisa mencerna bahasa – bahasa retoris antum. Tapi, masyarakat akan sangat mudah untuk menangkap dan menerjemahkan apa yang mereka indera dari antum.

Dan, yang perlu di ingat, rapi juga bukan hanya masalah pakaian, tapi juga manajemen yang lain, administrasi, agenda – agenda, menata tempat tinggal, dan menata kerapian hati untuk meniatkan kerapian ini hanya untuk Allah. Pokoknya, bagi seorang ikhwan, kerapian harus meliputi segala hal sendi kehidupan, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan juga saat tidur. Harus rapi.

Mengingat nasehat seorang ikhwan satu lingkaran. “Ikhwan itu, kalau kekampus, mesti harus sepatuan, celana dan kemeja disetrika, rambut disisir rapi dan jangan lupa pakai minyak wangi. Kalau sudah meniatkan untuk rapi namun belum juga bisa rapi, maka itulah saat pertanda meski harus ada seseorang yang mengingatkan antum.” Lho ?

May 15th, 2009 | Author: andrik

Karena cinta Allah kita berjumpa,
Berjuang bersama,
Membina ukhuwah,
Menyatukan hati kita yang penuh warna dan nuansa,

Maka kuntum bunga boleh layu,
Tapi rekahnya bunga – bunga ukhuwah tetap terjaga dihati ini.

Ana mohon pamit, mau kembali ke XXXXXXa,
Jazakallah khoir atas kebaikan antum selama ini,

Ana mohon maaf jika ada salah dan khilaf yang kurang berkenan,
Sampai jumpa, semoga tetep istiqomah.

-akhukum fillah : XXXXy-

SMS terakhir dari Murobbi sebelum beliau kembali ke kota kelahiran. Ana ukhibuka Fillah ya akhi
Category: Catatan Juang  | 2 Comments
May 13th, 2009 | Author: andrik
Tak terhitung suka duka yang pernah saya alami selama bersama Mujahid, nama kesayangan untuk motor pertama saya. Dari mulai diserempet dan tabrakan sesama motor, ban pecah atau bocor, rem blong, rantai lepas, mogok ditengah jalan, dan tidak sadar bahwa bensin sudah habis,. Serta kelupaan – kelupaan yang lainnya , namun yang paling sering adalah diteriakin orang di jalan karena dikira lupa membetulkan standar, saya hanya cengengesan saja. Sebenarnya bukan lupa, tapi memang Mujahid ini sudah terlalu banyak kehilangan fungsi normalnya. Dan, sebagai pembalasan, saya paling senang kalau memergoki orang lain yang juga lupa membetulkan standarnya, saya langsung otomatis teriak….”woooyyy standarnya tuh!! “….hehehe, puas banget gitu bisa ngeliat kesalahan orang, padahal saya juga sering diteriakin orang. Astagfirullah..

Yah begitulah, kuda roda dua, yang telah menjadi saksi bisu atas 6 tahun perjalanan hidup saya, yang rela joknya diduduki makhluk yang tak kenal waktu dan cuaca. Dari kelas 1 SMA sampai kini semester 6 di Universitas Brawijaya. Mujahid ini bukan motor bagus keluaran terbaru, tapi beliau (saking hormatnya saya atas semua jasa – jasanya) cuma motor honda prima tahun 1987. Yang bahkan lebih tua dari tahun kelahiran penumpangnya. Saya tidak pernah tersinggung kok kalau ada motor lain yang menyalip sambil bunyi’in klakson. Karena sadar diri emang motornya nggak bisa buat ngebut. Meski paling keki juga kalau disalip sama akhwat – akhwat “jigong*” itu.

Palingan si Mujahid ini bisa ngebalap becak sama sepeda doang, itupun juga sudah membuat saya girang banget , hehe, ah ga masalah deh bisa menyalip atau nggak, tapi yang penting bisa sampai tujuan dengan selamat, cie. (Apologi Mode On). Kalau lagi lampu merah dan berjajar dengan motor-motor canggih lainnya, berasa Mujahid ini yang paling butuuuuuuuuuuut banget, kalo motornya bisa seperti manusia, mungkin Mujahid ini sudah nutupin wajahnya pakai sapu tangan karena malu, hehe…

Meskipun demikian, saya sangat dan sangat mensyukurinya, nikmat dan karunia yang ALLAH berikan. Jadi inget kata Murobbi pertama saya di SMA dulu, nilai harta itu bukan dari bagus atau mahalnya tapi dari bagaimana kita mensyukurinya. Hmm….. dalem banget ya…. Kadang kita sibuk menggugat Allah atas harta yang belum kita miliki tapi malas untuk mengucap rasa syukur atas harta yang sudah kita miliki, padahal kalau mau diinget – inget lagi, banyak lho nikmat yang Allah beri tanpa kita minta. Mungkin sudah saatnya kita menyelami makna bersyukurnya Rasululah dan para sahabatnya dalam rangkaian zuhudnya.

Inilah dia, kuda beroda dua,
Kuda tunggangan, tercanggih milik kita
Berlari dengan kecepatan sahaja,
Memburu waktu alternatif yang ada
Sebuah kendaraan motor roda dua, buatan pabrik dua windu dulu kala.

Meskipun demikian kami mensyukurinya nikmat dan karunia yang Allah berikan
Karena itu adalah hakekatnya amanah yang dititipkan oleh Allah

Rasulullah tlah mengajarkan kita
Untuk berzuhud terhadap harta dunia,
Qonaah dengan segala pemberianNYA
Istiqomah napak tilasi jalan Surga
(zuhud III, Suara Persaudaraan).

Yah, sedih yang tak terperi, saat abi memutuskan untuk mempensiunkan mujahid ini. Beneran, air mata ini menetes saat Mujahid diambil oleh majikan barunya. Berasa seperti diputus pacar saja (Padahal belum pernah pacaran, hehe). Bagaimana tidak, 6 tahun lamanya kami bersama. Mujahid begitu setia menemaniku, meski seringkali memaksakan kondisinya yang memang sudah tua. Dan, kini, Mujahid harus beristirahat dengan tenang dialamnya.

2 minggu saya mengalami masa – masa penantian. Bertanya – tanya, siapakah gerangan yang akan menjadi pengganti Mujahidku ini. selama masa penantian itulah saya menjadi banyak belajar, merasakan betapa besar kebermanfaatan yang telah diberikan Mujahid. Berjalan kaki, meski banyak orang bilang itu adalah sesuatu yang sehat, tapi sangat menyiksaku dengan kesendirian menantinya.

Dan, Alhamdulillah, akhirnya penantian itu tidak sia – sia. Telfon dari abi akhirnya saya terima.

“Le, sesuk bali nang magetan yo. Mengko nggolek gantine sepedamu. Bapak yo mesakke yen awakmu kudu mlaku nak arep nangdi – nangdi”.

Yang jika diterjemahkan kira – kira begini,
“Nak, besok pulang ke Magetan ya.. Nanti, nyari pengganti sepedamu. Bapak kasihan, jika ananda harus jalan kaki jika mau kemana – mana”.

Tak berfikir lama, besoknya saya langsung semangat untuk pulang kampung. Menjelajah jarak sejauh lebih dari 200km. melewati gunung dan lembah. Menerjang hujan dan jurang. Hehehe..
Sesampai di Magetan, Setelah menelusuri hampir 10 dealer motor, akhirnya kini kutemukan Mujahid Muda-ku. Lebih bangganya lagi, dalam darah Mujahid baruku ini, ada saham dari hasil keringatku sendiri. Allahu Akbar !!!

Hai mujahid muda
maju kehadapan
sibakkan penghalang
satukan tujuan
kibarkan panji Islam dalam satu barisan
Bersama berjuang kita junjung keadilan

Jangan bimbang ragu
Tetaplah melaju
Hapus bayang semu
Di lubuk hatimu
Bergerak kedepan bagai gelombang samudra
Lantakkan tirani runtuhkan angkara murka

Majulah wahai mujahid muda
Dalam satu cita tegak keadilan
Singkirkan batas satukan kata
Kebangkitan Islam telah datang

Munsyid : Izzatul Islam

* jigong = jilbab gondrong

Category: Computer Science  | Tags: ,  | Leave a Comment
May 08th, 2009 | Author: andrik
Andaikan dakwah bisa tegak dengan seorang diri, tak perlu Musa mengajak Harun, tak perlu pula Rasulullah mengajak Abu bakar untuk menemaninya berhijrah,
Ya ikhwah,

Meskipun pengemban dakwah itu seorang alim, faqih dan memiliki azam yang kuat, tetap saja ia manusia biasa yang lemah dan akan selalu membutuhkan saudaranya untuk bersama – sama berjuang dijalan dakwah ini.

Ya ikhwah,

Sambutlah seruan ini, untuk bergabung dalam satu tingkat gerbong yang akan membuat antum memiliki kapasitas dan kapabilitas yang lebih untuk menegakkan kalimatullah ini, Daurah Marhalah 2 Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Daerah Malang !

Persiapkanlah diri antum!
Harta,
Jiwa,
Untuk kemenangan Islam!
Genderang perang telah berkumandang!
Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar!

Silahkan, bagi antum kader AB 1 KAMMI MALANG dari seluruh Komisariat yang sudah menyelesaikan perkuliahan SOLID 1, untuk mengikuti sertifikasi menuju DM 2 dengan urutan penyeleksian sebagai berikut :

a. 8 – 10 Mei 2009.
Sertifikasi, Mengerjakan soal take home, yang bisa didownload disini.
b. 10 Mei 2009.
Tes IJDK, dilaksanakan di KAMDA mulai pukul 13.00 dengan membawa tugas take home.
c. 10 Mei 2009.
Tes Wawancara. Dilaksanakan di KAMDA setelah selesai mengerjakan Tes IJDK.
d. 12 Mei 2009.
Pengumuman Hasil sertfikasi, di blog ini dan papan pengumuman KAMDA.
e. 13 Mei 2009.
Screening bagi kader yang lulus sertifikasi oleh AB 3 Malang. Waktu dan tempat sesuai kesepakatan dengan AB 3.

“Ia yang datang akan pergi. Seorang penguasa, pengemis, atau pertapa – setiap orang lahir pasti mati. Menghembuskan napas terakhir di atas tahta, atau diseret ke dalam kubur dengan kaki dan tangan dengan terikat, apa bedanya?” Tentu Beda.

Ketua LAK* KAMMI MALANG
CP & Informasi : Andrik (085649678928)

mohon maaf atas keterlambatan upload sekitar 3 jam, maklum, di desa internetnya jarang. ana harus menempuh 20 km untuk bisa ke pusat kota dan mengupload pengumuman ini.
* LAK = Lembaga Akreditasi Kader.
Category: Computer Science  | One Comment