Pernah suatu ketika, saat saya sedang menjadi pemateri dalam sebuah training IT bagi kader – kader dakwah di Brawijaya, sebuah sms masuk ke hape saya. Dari sebuah nomer yang sangat saya hafal diluar kepala. Dari seseorang yang sangat saya cintai. Seseorang yang telah begitu tega mencuri satu ruang dalam hati saya. Memang, kami jarang bercanda, tapi kedekatan kami melebihi apa yang diketahui orang lain tentang kami. Meski jarak memisahkan raga ini ratusan kilometer, tapi sesungguhnya hati kami selalu bersama. Hal itulah yang kemudian membuat setiap sms darinya begitu berarti (mungkin demikian juga sebaliknya). Sekedar sebagai perekat silaturahmi, atau pengingat disaat yang lain sedang khilaf.
Namun, ada yang lain dengan isi sms darinya saat itu. Kira – kira isinya begini :
Asw. Bwt smua temanx XXXXX, ini kakaknya XXXXX. Sy ingin memberitahu bhwa XXXXX udh ninggalin qt smua tdi jm 14.00. Klo XXXXX ad slah sma klian smw, mhon dibukakan pintu maaf yg sbsar2nya. Tlong dismpaikan kpd yg laen. Kmi skluarga mhon maaf atas kpergiannya. (…..)
Deg..sampai pada kata itu, hati saya sudah tidak karuan. Air mata tak terasa menetes dari kelopak mata ini. Dada terasa sesak. Mata berkunang – kunang. Kakipun serasa tak kuat menopang tubuh untuk berdiri. Bahkan tangan ini terasa begitu lemas hanya untuk memegang hape. Astagfirullah..tidak ada kata yang bisa terucap kala itu.
Pada titik nadir itulah kemudian, secara tak sengaja jari ini menggerakan kursor kebawah lagi. Oh..ternyata sms itu belum habis. Dan inilah lanjutan dari sms itu :
Ke XXXX, hijrah bareng XXXX. Hehehehe 
Dunia yang tadi serasa gelap seketika kembali terang benderang. Tubuh yang semula lemas, kini telah kembali bugar. Hati yang serasa terhimpit beban yang begitu berat telah kembali menjadi lapang, sangat lapang.
Yah, meski itu hanya sebuah sms candaan (yang kelewatan), tapi menjadi begitu sangat menyentuh hati ini. Mengacak – acak perasaan, menjungkirbalikan logika. Hilang sudah konsentrasi saya saat itu. Dari menangis, tertawa, bahagia, sampai kemudian kembali menangis, saat saya kembali membaca sms itu setelah sholat ashar. Ada dua hal yang saat itu terlintas dalam fikiran saya. Pertama, bagaimana jika sms itu memang benar ? sudahkah kita menyiapkan diri ini untuk menerima kenyataan bahwa kita kehilangan orang yang kita cintai ? Dimana, mungkin saja logika manusia mengatakan itu tidak mungkin. Dikarenakan usia yang masih muda, misalnya. Kedua, sudah siapkah diri kita jika ternyata nama yang tertulis dalam sms itu adalah nama kita ? Bagaimana perasaan orang yang menerima sms berita kematian kita ? sedih, biasa, apatis atau bahkan senang ?
Hal itulah yang kemudian membuat saya sedikit merenungi kilas balik hidup ini. Jika ternyata Allah menghendaki mengambil titipan nyawa dalam raga ini sekarang juga. Apa yang sudah kita siapkan untuk kembali menghadap kepadaNya. Sudahkah kita menjalankan perjanjian dan kesaksian tatkala kita masih dalam rahim dulu ? Bahwasanya hidup ini, mati ini, sholat ini, ibadah ini hanyalah untukNya semata. Benarkah demikian keadaan kita ketika didunia ? Bukankah masih terlalu banyak waktu dalam hidup kita ini yang berlalu dengan sia – sia. Menafikan keberadaanNya, bahkan melupakan janji kita sebelum dilahirkan itu.
Nikmat, baru terasa ketika ia diambil.
Sore itu juga, saya teringat pada ibu saya dirumah. Juga Ayah, yang mungkin sedang bekerja untuk kemudian bisa membiayai anak – anaknya agar bisa hidup layak dinegeri orang. Terbayang wajah beliau berdua yang mulai renta. Keriput yang tak lagi bisa disembunyikan dalam senyum – senyum manis setiap kali saya pulang ke rumah. Juga rambut beruban yang kemunculannya tak lagi bisa dicegah. Sungguh, saya tak bisa membayangkan jika seandainya Allah memanggil mereka saat ini. Bukan karena saya tidak menyakini bahwa beliau berdua juga milik Allah, tapi karena diri ini belum bisa berbakti sebagai seorang anak yang shaleh.
Air mata ini semakin tak terbendung, saat tiba – tiba cerita dari akh Bakhtiar, ketika kami masih serumah dulu kembali menyeruak dalam ingatan saya. Bahwa pernah ada seorang mahasiswa, aktivis juga, yang karena sangat sibuknya sampai – sampai tak sempat untuk sekedar menjenguk kedua orang tuanya. Setiap kali ditelfon untuk disuruh pulang, selalu beralasan sibuk. Sampai suatu ketika, telfon itu bukan lagi datang dari orang tuanya, melainkan dari sanak saudara yang mengatakan bahwa orang tuanya sedang kritis. Dan menginginkannya untuk segera pulang. Memang akhirnya mahasiswa itu pulang. Namun, ketika sampai didepan rumahnya, yang ditemui bukanlah sambutan hangat dari ibunya. Melainkan, para tetangga yang bergerombol didepan rumahnya. Sekilas ia melihat bendera hitam dan putih, berkibar dijalan masuk gang rumahnya. Dan, ketika ia melangkah keruang tengah rumahnya, beberapa ibu – ibu sedang membacakan al qur’an disamping jasad kaku seseorang. Yah, saat dia memasuki rumahnya yang ditemui bukanlah ibunya yang dulu. Melainkan sesosok jasad yang telah terbujur kaku dengan terbungkus kain kafan. Astagfirullah..sungguh berat saya membayangkan jika itu adalah ibu saya.
Merindukan mati, bukan mencari mati bukan pula takut mati.
Lalu, jika kematian begitu menakutkan. Yang akan memisahkan kita dari orang – orang tercinta. Memisahkan kita dari harta dunia dan segala perhiasanya. Mengapa justru ada sebagian orang yang begitu merindukannya ? sebut saja misalnya, para pejuang palestina. Mengapa mereka justru rela antri untuk menjadi pelaku bom syahid ? Apakah mereka tak tahu bahwa resiko dari keputusanya itu adalah sebuah kematian ? oh, tentu saja mereka tahu, sangat tahu. Dan perlu kita ketahui, pelaku bom syahid bukanlah pelaku bunuh diri. Karena tentu saja sangat berbeda antara bunuh diri dengan menjemput kematian. Yang pertama biasanya dilakukan karena merasa dirinya telah tidak sanggup menjalani kehidupan. Entah itu karena ditimpa masalah hidup yang kelewat berat, atau hal lain yang berhubungan dengan keduniawian. Sedangkan pelaku bom syahid tidaklah demikian. Mereka bukan sedang mengalami frustasi kehidupan. Melainkan benar – benar menjemput kematian itu. Dan, tentu saja tidak sembarang orang yang diamanahi untuk menjadi pelaku bom syahid ini. Setiap pelamar bom syahid harus terlebih dahulu menjalani serangkaian tes. Baik itu kadar ruhiyahnya, hafalan qur’an, serta beberapa muwashofat yang lain. Apa kedua hal itu sama ? tentu saja tidak.
Lama saya memikirkan hal ini. apa yang menyebabkan manusia beda dalam menyikapi kematian ? sampai kemudian saya menemukan jawaban itu dalam bacaan favorit saya :
Pertama : untuk mereka yang takut mati
Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seo
rang penolongpun terhadap Kami. QS. al-Isra’ (17) : 75
Kedua : Untuk mereka yang merindukan mati
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, mati; bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS Al-Baqarah: 154)
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. (QS Ali Imran: 169).
Nah, sekarang terserah kita, mau menjadi bagian yang mana ? Jika saatnya sudah ditentukan, siapakah yang bisa memajukan atau memundurkannya ?
Komentar Terbaru