Archive for » 2008 «

December 30th, 2008 | Author: andrik
Muslim yang satu dengan yang lain adalah saudara. Ibarat satu tubuh, apabila satu bagian tersakiti maka seluruh tubuh akan merasakan sakit itu serta meresponnya. Demikian juga yang terjadi dengan saudara kita, sesama muslim, di Palestina. Israel laknatullah telah menunjukan arogansinya dengan melakukan penyerangan besar – besaran terhadap warga sipil Palestina. Alasan apapun tidak bisa membenarkan tindakan brutal yang dilakukan zinois Israel. Lebih dari 300 warga sipil meninggal dan 800 lebih diantaranya mengalami luka – luka. Tidak hanya itu, infrastruktur sipilpun menjadi korban. Bahkan jalur logistik dan obat – obatan juga diblokade. Sungguh, apa yang dilakukan Israel adalah sebuah tindakan terorisme yang nyata dan terang – terangan. Dimana lemparan batu dan ketapel dijawab dengan jet – jet tempur dan tank – tank perang yang canggih.
Sebagai sesama muslim, wajib bagi kita untuk mencegah dan menghentikan tindakan dholim yang dilakukan oleh Israel terhadap saudara – saudara kita di Palestina. Oleh karena itu, sebagai bagian tak terpisahkan dari umat Islam di dunia, maka kami dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), menyatakan sikap :

1. Menuntut kepada zionis Israel untuk menghentikan tindakan arogansinya kepada muslim Palestina, serta segera meninggalkan diri dari tanah suci Palestina.
2. Menuntut kepada pemerintah RI, OKI dan PBB untuk segera mengambil langkah tegas kepada Israel.
3. Menyerukan kepada seluruh kaum muslim diseluruh penjuru dunia untuk bersatu padu, melawan kearogansian Israel, serta membantun saudara – saudara kita di Palestina, baik dengan bantuan doa, dukungan moral maupun dengan bantuan materi.

Akhir kata, kami serukan kepada Israel laknatullah, “Mereka membuat makar, dan Allah membuat makar, dan Allah sebaik-baiknya pembuat makar “.

Malang, 30 Desember 2008
Ketua KAMMI Daerah Malang
ttd

Abdul Aziz Nasruddin

Cp/Korlap. Andrik Prastiyono 085649678928/9161969

December 29th, 2008 | Author: andrik
“Jatuh & bangun adalah fitrah perjuangan, kegagalan adalah sebuah medan pendewasaan, kemenangan adalah sebuah lahan pemberdayaan. Bagi seorang muslim, semua situasi adalah tantangan untuk tetap istiqomah, tidak hanyut dalam euphoria berlebihan dan tidak goyah diterpa badai yang mengguncang. Itulah karakteristik yang kita bangun bersama, dan kini KAMMI telah kembali”.
Desember 2008, patut diabadikan sebagai salah satu momentum demokrasi kampus. Di mana, pada masa ini terjadi agenda besar panggung politik mahasiswa dari berbagai fakultas yakni FE, FK, dan FIA. Bagi sebagian mahasiswa, momentum suksesi BEM seringkali hanya dimaknai sebagai peralihan dari satu pemimpin kepada pemimpin yang lain dalam pergantian periode. Padahal, disadari atau tidak, BEM merupakan cerminan dari kondisi mahasiswa di lingkungannya. Dalam bahasa ideologis, pemimpin adalah representasi sebagian besar orang yang dipimpinnya.
Menengok situasi kampus biru tercinta, nuansa perubahan begitu terasa. Perubahan dalam partisipasi publik, perubahan dalam partisipan garis ideologis, dan perubahan dalam selera dan ekspektasi konstituen, (dan mungkin masih banyak perubahan yang kurang teridentifikasi penulis). Fakta umum menyebutkan bahwa terjadi kenaikan partisipasi dari pemilih sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat antusiame mahasiswa semakin meningkat. Di samping itu, eksistensi BEM mulai dirasakan. Selain itu juga kedekatan calon pemimpin itu dengan komunitas mahasiswa kebanyakan berpengaruh signifikan dalam mengakumulasi sura mahasiswa.

Dalam memahami konteks posisi eksekutif maupun legislatif kampus, BEM maupun DPM bukanlah tujuan atau cita-cita yang selalu kita impikan. Kesalahan berpikir dalam memahami situasi ini akan menimbulkan rentetan panjang kesalahan penyikapan pasca peristiwa itu terjadi. Adapun bila terjadi kegagalan, kita cenderung meratapi kegagalan tersebut dan menyalahkan siapa saja yang menjadi penyebab kesalahan sehingga berimbas pada lunturnya nilai-nilai ukhuwah yang sudah dibangun dalam waktu sekian lama. Adapun bila terjadi keberhasilan, maka kita akan terbuai dengan kesuksesan di awal, muncul kesombongan dan mengklaim bahwa semua terjadi karena “aku”. Bila ini yang terjadi maka rusaklah semua pengorbanan yang dilakukan sebelum, saat, dan sesudah suksesi itu sendiri.

Mari melihat dari sudut lain, ketika apa yang kita perjuangkan adalah jalan untuk mencapai cita-cita besar kita, menjadi rahmat bagi seluruh alam. Dalam konteks ini berarti kita ingin berarti dan memberi kontribusi positif bagi fakultas kita, menebarkan semangat perubahan, dan mengukir karya sebagai amalan kebanggaan kita kelak. Maka sudah cukup alasan bagi kita untuk mengayunkan langkah bersama mencapai jalan tersebut.

PEMILWA di sejumlah fakultas telah usai di akhir tahun ini, meskipun hiruk-pikuknya (baca: proses peresmian) belum selesai hingga detik ini, ada fajar harapan tumbuh ketika mereka yang terpilih adalah orang-orang yang dipercaya dapat menjalankan amanah dengan segala kemampuan dan tanggung jawab mereka. Mereka yang berteriak dengan lantang “Kami telah kembali, untuk mengabdi”. Maka bersiaplah untuk mengolah lahan pemberdayaan. Mungkin terasa lelah, tapi itulah tabiatnya jalan yang kita pilih. Air mata, peluh, luka justru mungkin akan menjadi penyelamat ketika kita menghadapi neraca keadilan.

GURU TERBAIK adalah PENGALAMAN

“Aku beruntung aku berada di sini, saat kami merasakan himpitan-himpitan lawan, kala dimana kami berada dalam ketegangan-ketegangan dalam tiap pergantian detik. Di lain waktu, kami merasakan kebahagiaan di atas jerih yang berpeluh-peluh, merasakan kenikmatan sujud bersama saudara kami saat mabit. Dan sekali lagi, aku merasa menjadi orang yang paling beruntung.”

Pengalaman diklaim sebagai modal yang paling berharga dalam menjalani kehidupan. Adapun pengetahuan dan skill merupakan bagian awal sebuah kompetensi. Pengalaman mengabungkan dua kompetensi tersebut dalam waktu yang bersamaan. Hasilnya, fantastis…….pengalaman dapat mengubah cara berpikir seseorang menjadi lebih dewasa.

Bicara masalah pengalaman, maka erat kaitannya dengan sejarah. Pengalaman kita adalah bagian dari masa lalu tentang apa yang pernah kita alami. Dari masa lalu itu, kita belajar menempatkan sisi positif dan negatif, menggali kompetensi, menemukan celah dan merancang sebuah bangunan masa depan. Maka sejarah menempati posisi yang sangat penting dalam upaya mendewasakan diri kita. Dalam kaca mata Islam, sejarah terbaik pernah ditorehkan oleh para pahlawannya dengan dua senjata utama yakni Alqur’an dan as-sunnah.
Dalam konteks PEMILWA yang menjadi arena suksesi eksekutif dan legislatif kampus, seharusnya pengalaman menjadi modal awal kekuatan kita. Coba hitung kembali, berapa kali keterlibatan kita, baik secara personal maupun komunal dalam momen ini diberbagai lingkup. Meski pengalaman tidak selalu berwujud dalam kemenangan, pasti ada nilai yang terkandung dibalik setiap peristiwanya.

Betapa telah cukup pengalaman yang kita rasakan. Catatan harian menjelang suksesi yang diramaikan ikhwah adalah catatan harap-harap dan kecemasan. Betapa kita telah merasakan semua, bagaimana nuansa jiwa kita campur aduk. Hari-hari kita disibukkan dengan berbagai persiapan, kadangkala dibumbuhi dengan perselisihan kecil sebagai fitrah keberagaman. Tempat tinggal kita, mungkin dipenuhi dengan pernak-pernik atribut dan segala pelengkapnya. Itulah guru kita, yang berbentuk pengalaman.

ditulis untuk buletin KIRI KAMMI pasca kemenangan KAMMI di 3 pemilwa fakultas UB.

December 28th, 2008 | Author: andrik
Di usia yang relatif muda ini, pernahkah antum membayangkan tentang kematian ? ya, KEMATIAN. Sebuah hal yang bisa jadi sangat tabu untuk dibicarakan oleh “anak muda”. Sebuah kata yang bisa jadi sangat menakutkan bagi sebagian orang dan juga bisa menjadi sesuatu yang begitu dirindukan oleh sebagian yang lain.
Pernah suatu ketika, saat saya sedang menjadi pemateri dalam sebuah training IT bagi kader – kader dakwah di Brawijaya, sebuah sms masuk ke hape saya. Dari sebuah nomer yang sangat saya hafal diluar kepala. Dari seseorang yang sangat saya cintai. Seseorang yang telah begitu tega mencuri satu ruang dalam hati saya. Memang, kami jarang bercanda, tapi kedekatan kami melebihi apa yang diketahui orang lain tentang kami. Meski jarak memisahkan raga ini ratusan kilometer, tapi sesungguhnya hati kami selalu bersama. Hal itulah yang kemudian membuat setiap sms darinya begitu berarti (mungkin demikian juga sebaliknya). Sekedar sebagai perekat silaturahmi, atau pengingat disaat yang lain sedang khilaf.
Namun, ada yang lain dengan isi sms darinya saat itu. Kira – kira isinya begini :

Asw. Bwt smua temanx XXXXX, ini kakaknya XXXXX. Sy ingin memberitahu bhwa XXXXX udh ninggalin qt smua tdi jm 14.00. Klo XXXXX ad slah sma klian smw, mhon dibukakan pintu maaf yg sbsar2nya. Tlong dismpaikan kpd yg laen. Kmi skluarga mhon maaf atas kpergiannya. (…..)

Deg..sampai pada kata itu, hati saya sudah tidak karuan. Air mata tak terasa menetes dari kelopak mata ini. Dada terasa sesak. Mata berkunang – kunang. Kakipun serasa tak kuat menopang tubuh untuk berdiri. Bahkan tangan ini terasa begitu lemas hanya untuk memegang hape. Astagfirullah..tidak ada kata yang bisa terucap kala itu.

Pada titik nadir itulah kemudian, secara tak sengaja jari ini menggerakan kursor kebawah lagi. Oh..ternyata sms itu belum habis. Dan inilah lanjutan dari sms itu :

Ke XXXX, hijrah bareng XXXX. Hehehehe ;)

Dunia yang tadi serasa gelap seketika kembali terang benderang. Tubuh yang semula lemas, kini telah kembali bugar. Hati yang serasa terhimpit beban yang begitu berat telah kembali menjadi lapang, sangat lapang.

Yah, meski itu hanya sebuah sms candaan (yang kelewatan), tapi menjadi begitu sangat menyentuh hati ini. Mengacak – acak perasaan, menjungkirbalikan logika. Hilang sudah konsentrasi saya saat itu. Dari menangis, tertawa, bahagia, sampai kemudian kembali menangis, saat saya kembali membaca sms itu setelah sholat ashar. Ada dua hal yang saat itu terlintas dalam fikiran saya. Pertama, bagaimana jika sms itu memang benar ? sudahkah kita menyiapkan diri ini untuk menerima kenyataan bahwa kita kehilangan orang yang kita cintai ? Dimana, mungkin saja logika manusia mengatakan itu tidak mungkin. Dikarenakan usia yang masih muda, misalnya. Kedua, sudah siapkah diri kita jika ternyata nama yang tertulis dalam sms itu adalah nama kita ? Bagaimana perasaan orang yang menerima sms berita kematian kita ? sedih, biasa, apatis atau bahkan senang ?

Hal itulah yang kemudian membuat saya sedikit merenungi kilas balik hidup ini. Jika ternyata Allah menghendaki mengambil titipan nyawa dalam raga ini sekarang juga. Apa yang sudah kita siapkan untuk kembali menghadap kepadaNya. Sudahkah kita menjalankan perjanjian dan kesaksian tatkala kita masih dalam rahim dulu ? Bahwasanya hidup ini, mati ini, sholat ini, ibadah ini hanyalah untukNya semata. Benarkah demikian keadaan kita ketika didunia ? Bukankah masih terlalu banyak waktu dalam hidup kita ini yang berlalu dengan sia – sia. Menafikan keberadaanNya, bahkan melupakan janji kita sebelum dilahirkan itu.

Nikmat, baru terasa ketika ia diambil.

Sore itu juga, saya teringat pada ibu saya dirumah. Juga Ayah, yang mungkin sedang bekerja untuk kemudian bisa membiayai anak – anaknya agar bisa hidup layak dinegeri orang. Terbayang wajah beliau berdua yang mulai renta. Keriput yang tak lagi bisa disembunyikan dalam senyum – senyum manis setiap kali saya pulang ke rumah. Juga rambut beruban yang kemunculannya tak lagi bisa dicegah. Sungguh, saya tak bisa membayangkan jika seandainya Allah memanggil mereka saat ini. Bukan karena saya tidak menyakini bahwa beliau berdua juga milik Allah, tapi karena diri ini belum bisa berbakti sebagai seorang anak yang shaleh.

Air mata ini semakin tak terbendung, saat tiba – tiba cerita dari akh Bakhtiar, ketika kami masih serumah dulu kembali menyeruak dalam ingatan saya. Bahwa pernah ada seorang mahasiswa, aktivis juga, yang karena sangat sibuknya sampai – sampai tak sempat untuk sekedar menjenguk kedua orang tuanya. Setiap kali ditelfon untuk disuruh pulang, selalu beralasan sibuk. Sampai suatu ketika, telfon itu bukan lagi datang dari orang tuanya, melainkan dari sanak saudara yang mengatakan bahwa orang tuanya sedang kritis. Dan menginginkannya untuk segera pulang. Memang akhirnya mahasiswa itu pulang. Namun, ketika sampai didepan rumahnya, yang ditemui bukanlah sambutan hangat dari ibunya. Melainkan, para tetangga yang bergerombol didepan rumahnya. Sekilas ia melihat bendera hitam dan putih, berkibar dijalan masuk gang rumahnya. Dan, ketika ia melangkah keruang tengah rumahnya, beberapa ibu – ibu sedang membacakan al qur’an disamping jasad kaku seseorang. Yah, saat dia memasuki rumahnya yang ditemui bukanlah ibunya yang dulu. Melainkan sesosok jasad yang telah terbujur kaku dengan terbungkus kain kafan. Astagfirullah..sungguh berat saya membayangkan jika itu adalah ibu saya.

Merindukan mati, bukan mencari mati bukan pula takut mati.

Lalu, jika kematian begitu menakutkan. Yang akan memisahkan kita dari orang – orang tercinta. Memisahkan kita dari harta dunia dan segala perhiasanya. Mengapa justru ada sebagian orang yang begitu merindukannya ? sebut saja misalnya, para pejuang palestina. Mengapa mereka justru rela antri untuk menjadi pelaku bom syahid ? Apakah mereka tak tahu bahwa resiko dari keputusanya itu adalah sebuah kematian ? oh, tentu saja mereka tahu, sangat tahu. Dan perlu kita ketahui, pelaku bom syahid bukanlah pelaku bunuh diri. Karena tentu saja sangat berbeda antara bunuh diri dengan menjemput kematian. Yang pertama biasanya dilakukan karena merasa dirinya telah tidak sanggup menjalani kehidupan. Entah itu karena ditimpa masalah hidup yang kelewat berat, atau hal lain yang berhubungan dengan keduniawian. Sedangkan pelaku bom syahid tidaklah demikian. Mereka bukan sedang mengalami frustasi kehidupan. Melainkan benar – benar menjemput kematian itu. Dan, tentu saja tidak sembarang orang yang diamanahi untuk menjadi pelaku bom syahid ini. Setiap pelamar bom syahid harus terlebih dahulu menjalani serangkaian tes. Baik itu kadar ruhiyahnya, hafalan qur’an, serta beberapa muwashofat yang lain. Apa kedua hal itu sama ? tentu saja tidak.

Lama saya memikirkan hal ini. apa yang menyebabkan manusia beda dalam menyikapi kematian ? sampai kemudian saya menemukan jawaban itu dalam bacaan favorit saya :

Pertama : untuk mereka yang takut mati

Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seo

rang penolongpun terhadap Kami. QS. al-Isra’ (17) : 75

Kedua : Untuk mereka yang merindukan mati

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, mati; bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS Al-Baqarah: 154)

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. (QS Ali Imran: 169).

Nah, sekarang terserah kita, mau menjadi bagian yang mana ? Jika saatnya sudah ditentukan, siapakah yang bisa memajukan atau memundurkannya ?

Category: Catatan Juang  | Tags: , ,  | Leave a Comment
December 26th, 2008 | Author: andrik
Tahun baru hijriyah diyakini banyak pemikir Islam sebagai tahun kebangkitan Islam, bahkan menjadi titik balik kemenangan perjuangan Rasulullah saw. dan para shahabat. Setiap tahun kita memperingati tahun baru Islam ini, namun sudahkah secara substansial ada pencerahan di tubuh ummat dengan berlalunya tahun baru demi tahun baru? Sudahkah semangat energizing berhasil kita serap dari momentum yang menjadi titik balik kemenangan tadi…?. Masih banyak permasalahan ummat yang belum tuntas kita upayakan solusinya, termasuk masalah persatuan ummat dan pemunculan sosok-sosok pemimpin yang berkualitas.
Perpecahan selalu membawa malapetaka dan kerusakan besar di tengah-tengah ummat. Kurang percayakah kita? Kurang yakinkah kita setelah demikian banyak bukti sejarah memberi pelajaran? Perpecahan, perselisihan di perang Uhud misalnya, mengakibatkan gagalnya kemenangan yang semula sudah diraih. Rasulullah saw. tembus di pipinya karena dilempari dengan pecahan besi, yang ketika dicabut menyebabkan dua gigi beliau patah. Bahkan ketika para sahabat memapah beliau ke tempat yang lebih tinggi, Rasulullah saw terperosok ke dalam lubang jebakan yang berisi senjata tajam, sehingga paha beliau sobek dan jatuh pingsan karena begitu banyaknya darah yang keluar.
Kurang yakinkah kita akan efek dari perpecahan? Tengoklah perang Shiffin yang disebabkan oleh konflik antara Ali dan Mu’awiyah. Perang yang menelan korban 80.000 muslimin. Sebuah tragedi kelam dalam sejarah Islam. Belum paham jugakah kita bagaimana pedihnya perpecahan? Di Iraq, ratusan orang menjadi korban ketika kaum Syi’ah menyerang kaum Sunniy. Selanjutnya kaum Sunniy menyerang kaum Syi’ah sehingga meninggal pula sejumlah orang, dan seterusnya tak berkesudahan. Padahal sunniy bukanlah musuh syi’ah dan syi’ah bukanlah musuh sunniy? Musuh mereka adalah sang penjajah Amerika.
Belum sadarkah kita tentang apa yang terjadi di Palestina? Ketika Presiden Palestina—Mahmud Abbas—berkunjung ke Indonesia dan mengundang untuk berdiskusi, dengan tegas saya sampaikan kepada beliau, bahwa bangsa Palestina tidak akan meraih kemenangan kecuali mereka bersatu melawan Israel.
Benarlah kata Imam Ali dalam pesannya, “Kebenaran yang tidak terorganisir akan dapat dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir”.

Sesungguhnya modal kita untuk bersatu sangat sederhana. Ialah ketika kita sepakat untuk mengucapkan “Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadurrasulullah”. Bagi kami, ketika seseorang menyatakan komitmennya untuk taat pada Allah dan Rasul-Nya, cukuplah itu. Soal fiqh, furu’, cabang-cabang, pendapat, mari kita bicarakan, mari kita diskusikan, mari kita perdalam. Wong niatnya sama-sama mau masuk surga kok, kenapa harus cek-cok?

TANTANGAN & VISI KE DEPAN

Sebetulnya apakah persoalan pokok ummat? Agenda mendesak apa yang perlu kita selesaikan bersama? Hal terberat yang sedang dihadapi ummat kini adalah kemiskinan, yang nyaris mendekatkan mereka kepada kekufuran. Ada beberapa contoh kasus, di Bandung misalnya, seorang Ibu(berkerudung pula) sampai hati membunuh anaknya karena khawatir anak-anaknya miskin. Juga di Makassar, seorang Ibu yang sedang hamil meninggal karena kelaparan. Tiga hari dia tidak makan, demikian pula anak-anaknya.
Kelemahan ekonomi ummat adalah penyebabnya. Hingga saat ini kemampuan ummat untuk berekonomi belumlah memadai. Bagai menjadi budak di negeri sendiri. Baik dari sisi akses terhadap sumber daya maupun skill-nya. Ekonomi masih dikuasai oleh sistem, konvensional ribawi. Lalu datanglah krisis ekonomi, masalah semakin berat. Akibatnya langsung dapat dilihat. Untuk menyelamatkan keluarga, para gadis dan ibu-ibu berangkat menjadi TKW diluar negeri. Dimana ‘izzah ummat ?, martabat bangsa. Begitu kerap kita mendengar kasus-kasus yang menyayat hati: ada yang diperkosa, dihukum mati, ada yang terjun dari tingkat empat lantaran tidak tahan disiksa majikan. Dan kita tidak mampu melindungi mereka.
Masalah moral juga menorehkan catatan menyedihkan. Kita dapati tokoh-tokoh muslim yang namanya seperti nama Nabi, seperti gelar Nabi, seperti nama orang sholeh namun ditangkap KPK. Mereka menjadi harapan ummat, menyandang nama terpercaya, namun ternyata korupsi. Seberapa kuatkah komitmen moral kita? Moral Islam.

Agenda berikutnya adalah pendidikan. Soal penyiapan SDM unggul, yang dapat diandalkan menjalankan roda pembangunan ummat. Apalagi persiapan kepemimpinan nasional dimasa mendatang. Sekarang saja, bangsa besar ini seperti kebingungan mencari calon pemimpinnya. Kita masih saling bertanya satu sama lain, padahal kita berdoa “waj’alna lil muttaqiina imaman”. Kita mohon pada Allah swt. agar menjadikan anak-anak kita sebagai pemimpin orang-orang bertaqwa.
Memang kita memiliki banyak pesantren. Namun setelah kami riset, pesantren-pesantren tersebut dapat kita bagi dalam dua kategori. Kategori pertama adalah pesantren yang memiliki metode pengajaran dan kurikulum bagus, namun sarananya amat memprihatinkan. Di sebuah pesantren kami pernah menemukan sebuah ruang 3×4 m2 yang dihuni oleh 30 anak. Sanitasinya tidak terawat, bak penampung air mandi yang tak pernah diganti sehingga menyebabkan penyakit kulit. Bahkan ada sebuah pemeo, tidak sah menjadi santri kalau tidak kudisan.
Kelompok kedua adalah pesantren yang memiliki sarana bagus, namun kurikulumnya tidak memiliki keunggulan. Penyiapan kwalitas SDM ummat ini perlu pembenahan, dengan sinergi dan persatuan dan keuatan bersama tentunya.

SIAPA YANG HARUS BERBUAT?

Dalam konteks ummat Islam Indonesia setiap orang tentu merujuk kepada NU dan Muhammadiyyah dengan segenap elitenya. Pertanyaannya adalah, bisakah kita menurunkan tensi jurang pemisah. Saling adzillatin, menjalin tali asih. Saling merendah dan bukannya saling gengsi. Bisakah kita sesama ummat BERHENTI saling mencurigai(su’uzhan), saling mengintai(wa laa tajassasu), saling membelakangi dan saling menggunjing(ghibah). Kita membutuhkan persatuan dalam kesejukan ikatan kasih sayang persaudaraan. Bila bersatu, maka kita akan kuat dan insya Allah sanggup untuk menghadapi kekuatan kebathilan apapun bentuknya.

Sangat mungkin dan sangat layak ummat ini bersatu. Pak Din, Pak Hasyim dan Pak Hidayat—tokoh-tokoh harapan ummat–sama-sama alumni Gontor dan sama-sama menduduki posisi strategis. Dengan seringnya tokoh-tokoh yang dicintai ummat ini bersilaturahim, syak wasangka akan terhapus, keakraban akan kian kokoh dan berbagai pemikiran untuk kemajuan ummat dan bangsa akan mengalir deras. Terbayang betapa bahagia dan sejuknya hati ummat menyaksikan para pemimpinnya kokoh bersatu. Sesuatu yang sudah amat kita rindukan.

Tak ada ghill secuilpun dari kami terhadap NU dan Muhammadiyyah. Kami tidak memiliki rencana negatif apapun terhadap saudara-saudara kami NU dan Muhammadiyyah. Kami bergerak di ranah politik, sama dengan saudara-saudara kami parpol Islam lainnya. Membenahi eksekutif dan legislatif, mengadvokasi ummat di ranah pembuatan kebijakan publik. Bila perjuangan di ranah politik ini mendapat dukungan dari saudara-saudara kami yang lain, khususnya ormas-ormas, tentu kita akan memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.
Demikianlah harapan kita, ummat ini menjadi kuat, karena kita saling merunduk, saling merangkul, bagaikan satu tubuh. Sehingga kita (ummat) ini bisa dan harus bersatu untuk maju. Selamat Tahun Baru 1430 Hijriyah !

sumber : ust tifatul simbiring (presiden PKS)

December 24th, 2008 | Author: andrik

Sesungguhnya..
Hitungan nafas telah ditetapkan,
Hitungan detik telah diperhitungkan.
Demi Allah,
Sesungguhnya semakin dekat ujung kehidupan kita,
Hisab semakin nyata,
Dan sesungguhnya Hisab Allah amatlah berat,
Saudaraku,
Janganlah sia siakan nafas kita,
Jangan sia – siakan waktu kita,
Sesungguhnya..
Hanya Allahlah tujuan kita…
Perjalanan hidup manusia,
Menempuh alam dunia
menghabiskan waktu yang tiada lama

Usia bertambah makin senja,
Tiada terasa tak tersadar

Sadarilah, usia amanah dari Ilahi
Sadarilah, ia pasti kan dimintai
Pertanggung jawabannya pada Ilahi
Sadarilah, jalani hidup ini penuh makna
Sadarilah, pastikan ia berarti diakhirat yang abadi.


“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad teriring keluarga serta sahabat beliau. Wahai Tuhanku, apa yang hamba perbuat sepanjang tahun ini berupa perbuatan perbuatan yang Paduka larang hamba melakukannya, sedangka hamba belum bertaubat dari padanya dan Paduka tidak meridhainya dan tidak melupakannya, dan Padukapun telah menyayangi hamba setelah Padukapun kuasa untuk menyiksa hamba, kemudian Paduka menyeru hamba untuk bertaubat setelah hamba bermaksiat kepada Paduka. Karena itu, hamba mohon ampunan dari Paduka, maka ampunilah hamba dengan Anugerah-Mu.

Dan apa yang telah hamba kerjakan ditahun ini adalah berupa perbuatan yang Paduka ridhai dan Paduka janjikan pahala atasnya, Hamba mohon pada-Mu wahai Tuhanku, Dzat Yang Maha Mulia, yang memiliki Kebesaran dan Kemuliaan, agar Paduka terima amalan hamba dan jangan hendaknya Paduka putuskan harapan hamba dari-Mu, wahai Dzat Yang Maha Mulia. Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad teriring keluarga serta sahabat beliau.”

December 19th, 2008 | Author: AndrikPrastiyono.Net

December 17th, 2008 | Author: andrik

Kepada yang saya cintai
Ibunda
Di tempat.

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi wabarakatuh,

Bunda,
Saat bunda membaca surat ini, ketahuilah bahwa saya sangat bersyukur kepada Allah karena Dia memberikan pada saya ibunda yang memiliki cinta yang berlimpah. Rela meregang nyawa demi kelahiran ananda, rela berkorban bagi kebaikan seluruh anggota keluarga.

Bunda,
Sepanjang sejarah kehidupan manusia para bundalah yang paling banyak menanam jasa. Hingga Rasulullah Saw memerintahkan setiap manusia untuk menghormati bundanya tiga kali lipat lebih besar daripada ayahnya sendiri. Di bawah telapak kaki bundalah surga terletak.

Bunda,
Saya sangat meyakini bahwa bunda adalah peletak dasar pendidikan ruhani dan moral dalam keluarga dengan penuh keikhlasan dan cinta. Para bundalah yang melatih kami untuk hidup bersih dan sehat, menggemari membaca dan menuntut ilmu, memelihara martabat diri, keluarga dan bangsa serta bertanggung jawab pada Sang Pencipta.

Bunda,
Tak terhingga cinta para bunda tercurah bagi saya. Dari keikhlasan untuk menebar cinta dan membimbing keluarga lahirlah generasi yang siap untuk membangun bangsa ini dengan penuh cinta dan hanya mengharap ridho Allah semata.

Kiranya, kami haturkan rasa terima kasih yang tak berhingga bagi seluruh bunda yang telah menebar cinta, mendidik generasi pembangun bangsa.

Wassalaamu’alaikum warahmaatullaahi wabarakaatuh,